Kabarminang — Lansia bernama Sanusi (71), warga Korong Lubuk Aro, Nagari Anduring, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, hidup sebatang kara di rumah tidak layak huni sejak tahun 2000. Kondisi tersebut membuatnya membutuhkan uluran tangan dari pemerintah maupun pihak terkait.
Sanusi tinggal sendiri setelah istrinya meninggal dunia dan anak semata wayangnya merantau ke Jakarta. Dari pantauan Sumbarkita Sabtu (23/5), kondisi rumah yang ditempati Sanusi cukup memprihatinkan. Ia menempati kamar depan berukuran sekitar 2 x 3 meter dengan bagian belakang ditutupi seng bekas dan terpal, dengan atap rumah yang bocor.
“Saya tinggal di sini sendiri semenjak istri meninggal dan anak pergi merantau,” katanya.
Selain hidup sendiri, Sanusi juga mengalami kesulitan berjalan akibat cacat pada salah satu kakinya. Untuk beraktivitas, ia harus menggunakan dua tongkat sebagai alat bantu berjalan.
“Kaki saya cacat karena sudah beberapa kali terjatuh,” ujarnya.
Ia menyebut, untuk kebutuhan sehari-hari, Sanusi mengaku hanya mengandalkan hasil mengumpulkan buah pinang yang jatuh di sekitar rumahnya. Dalam satu minggu, hasil yang dikumpulkannya sekitar dua kilogram.
Sanusi menyebut, penghasilan dari menjual buah pinang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia mengaku terkadang mendapat bantuan makanan dan uang dari warga sekitar.
Ia mengaku saat ini tidak lagi menerima bantuan langsung tunai (BLT). Ia hanya sesekali menerima bantuan sembako, termasuk setelah bencana yang terjadi pada 2025 lalu.















