“Pengakuan mereka sudah ditanya kepada Warni asalnya dari mana karena hendak mengantarnya pulang. Namun, responnya selalu tidak nyambung. Setelah itu, kami membawa Warni pulang ke rumahnya,” ujarnya.
Sejak kejadian itu, kata Yandrianto, mungkin timbul kekhawatiran keluarga. Karena itu, katanya, anaknya memasung Warni supaya tidak menghilang dan mengganggu warga lagi.
“Terakhir saya ke rumahnya tanggal 23 Juni mengantarkan bantuan sosial untuknya berupa beras, minyak, gula, dan uang. Saat itu dia belum dipasung,” tuturnya.
Pada Kamis (25/6/2026), kata Yandrianto, Warni didatangi petugas kesehatan untuk pemeriksaan. Setelah pemeriksaan itu, katanya, warga direncanakan untuk dibawa berobat ke RSJ HB Saanin.
“Saat itu Warni dipasung dengan rantai di ruang tamu oleh anaknya,” ucap Yandrianto.
Ia mengatakan bahwa pada pagi hari sebelum kejadian itu Warni meminta dua batang rokok kepada suaminya yang hendak pergi bekerja ke pasar. Kemudian, suami Warni memberinya rokok sebab memang Warni dikenal suka merokok.
Setelah pulang dari pasar, kata Yandrianto, suami Warni menemukan rumah dan istrinya terbakar. Menurut suami, mungkin puntung rokok yang dibakar Warni masih menyala dan diletakan di atas kasur.
“Melihat kondisi seperti itu, suaminya itu menangis atas kejadian itu,” tutur Yandrianto.















