Kabarminang – Bank Nagari tetap mencatatkan pertumbuhan positif di tengah tekanan ekonomi nasional dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Hingga April 2026, bank pembangunan daerah terbesar di Sumatera Barat itu berhasil membukukan total aset sebesar Rp34,21 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp25,25 triliun dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp27,95 triliun. Pada periode yang sama, Bank Nagari juga mencatat laba bersih sebesar Rp145,49 miliar.
Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan capaian tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menjaga kinerja bisnis di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi industri perbankan sepanjang awal 2026.
Menurutnya, salah satu indikator yang menunjukkan kuatnya fundamental Bank Nagari adalah Net Interest Margin (NIM) yang mencapai 6,13 persen. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang berkisar 4,5 persen.
“Yang menarik, di tengah berbagai tekanan ekonomi, Bank Nagari masih mampu mencatatkan Net Interest Margin sebesar 6,13 persen. Padahal rata-rata nasional hanya berada di kisaran 4,5 persen,” ujar Gusti dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bank Nagari, Jalan Pemuda, Kota Padang, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, industri perbankan saat ini menghadapi tantangan akibat kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Kenaikan tersebut berdampak pada meningkatnya biaya dana (cost of fund) yang harus ditanggung perbankan.
Untuk menjaga pertumbuhan tetap positif, Bank Nagari terus melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari optimalisasi operasional, penyesuaian suku bunga secara terukur, hingga percepatan penyelesaian kredit bermasalah.
“Oleh karena itu, Bank Nagari terus melakukan berbagai langkah efisiensi agar laba perusahaan pada tahun ini dapat tumbuh lebih baik,” katanya.
Selain memaparkan kinerja hingga April 2026, Gusti juga menyampaikan capaian Bank Nagari sepanjang tahun buku 2025. Pada periode tersebut, Bank Nagari membukukan total aset sebesar Rp33,6 triliun, penyaluran kredit Rp25,27 triliun, penghimpunan DPK Rp26,84 triliun, serta laba bersih audited mencapai Rp484,79 miliar.
Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Bank Nagari sebagai bank terbesar di Sumatera Barat. Berdasarkan data statistik perbankan daerah, Bank Nagari menguasai pangsa pasar aset sebesar 39,21 persen, dana pihak ketiga sebesar 33,33 persen, serta kredit sebesar 30,79 persen.
“Artinya, Bank Nagari merupakan bank terbesar di Sumbar. Dengan market share sebesar itu, tentu keberadaan Bank Nagari sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan daerah,” ujar Gusti.
Tak hanya itu, Bank Nagari juga terus memperkuat dukungan terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini, pangsa pasar kredit UMKM Bank Nagari mencapai 20,85 persen dan disebut sebagai yang tertinggi di antara seluruh Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di sisi lain, Bank Nagari juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah melalui pembagian dividen kepada pemerintah daerah selaku pemegang saham. Pada tahun buku 2025, Bank Nagari menyerahkan dividen sebesar Rp326,61 miliar kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, pemerintah kabupaten/kota, serta Koperasi Bank Nagari.
Menurut Gusti, kontribusi dividen tersebut menunjukkan bahwa Bank Nagari tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai salah satu pilar penting dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
















