Kabarminang – Empat anak yang berada dalam bimbingan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Delima Pariaman dinyatakan lulus ujian tahun ini. Dari jumlah tersebut, dua anak lulus jenjang SMP dan dua lainnya lulus SMA.
Dari dua anak yang lulus SMP, satu di antaranya adalah siswi yang mengikuti ujian dalam kondisi hamil tua. Sementara satu siswi lainnya merupakan korban cabul dan tidak dalam kondisi hamil. Keduanya tetap dapat menyelesaikan ujian dengan dukungan pihak sekolah dan pendamping RPSA.
Ketua RPSA Delima Pariaman, Fatmiyeti Kahar, mengatakan kelulusan ini menjadi bukti bahwa persoalan hukum dan sosial yang dihadapi anak tidak boleh menghentikan hak mereka atas pendidikan.
“Alhamdulillah, empat anak kita lulus tahun ini. Dua lulus SMP dan dua lulus SMA. Termasuk satu anak yang kemarin mengikuti ujian dalam kondisi hamil tua, ia juga dinyatakan lulus,” ujarnya, Kamis (7/5).
Ia menjelaskan, keempat anak tersebut memiliki latar belakang kasus berbeda. Satu anak merupakan korban persetubuhan hingga hamil, satu anak korban cabul, satu anak tersangkut kasus pembunuhan, dan satu lainnya terkait perkara penganiayaan. Seluruhnya mendapatkan pendampingan selama proses hukum sekaligus pembinaan sosial dan pendidikan.
Menurut Fatmiyeti, anak yang berhadapan dengan hukum mengikuti ujian dalam pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku dengan koordinasi bersama pihak sekolah dan lembaga pembinaan. Sementara anak korban tetap difasilitasi agar dapat mengikuti ujian dengan aman dan tanpa diskriminasi.
“Kami memastikan mereka tetap mengikuti proses belajar dan ujian tanpa dipersulit. Pendidikan adalah hak dasar anak yang harus tetap dijaga,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan sekolah, guru, dan lembaga terkait yang memberikan kesempatan kepada anak-anak tersebut untuk menyelesaikan pendidikan formalnya.
RPSA Delima Pariaman berharap kelulusan ini menjadi titik awal bagi anak-anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti pembinaan lanjutan agar memiliki kesempatan memperbaiki masa depan.
“Anak-anak ini membutuhkan ruang untuk bangkit. Kelulusan ini adalah langkah penting bagi masa depan mereka,” tutup Fatmiyeti.
















