Kabarminang – Di tengah modernisasi hiburan, permainan tradisional Buayan Kaliang masih bertahan sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di Kota Pariaman. Sudah lebih dari 70 tahun, wahana sederhana berbahan kayu ini terus menjadi magnet masyarakat setiap Idulfitri.
Setiap perayaan Lebaran, Buayan Kaliang selalu hadir di kawasan dekat Pantai Gandoriah, tepatnya di belakang Masjid Nurul Bahari, Kelurahan Pasir, Kecamatan Pariaman Tengah. Lokasi ini menjadi titik berkumpulnya warga dan perantau yang ingin merasakan sensasi permainan tradisional khas anak nagari tersebut.
Buayan Kaliang terbuat dari rangka kayu dengan empat kotak tempat duduk penumpang. Wahana ini digerakkan secara manual oleh tenaga manusia, menciptakan sensasi berayun dan berputar yang memacu adrenalin.
Permainan ini dikelola secara turun-temurun. Pemiliknya saat ini, Nurhayati atau yang akrab disapa Mak Inun, melanjutkan usaha yang dirintis oleh ayahnya, Abang Ayo, sebagai pengelola pertama Buayan Kaliang di Pariaman.
“Dulu usaha ini dikelola oleh ayah saya dengan 15 unit Buayan Kaliang. Setelah beliau meninggal, saya yang meneruskannya sampai sekarang,” ujar Mak Inun, Rabu (25/3/2026).
Namun, seiring waktu, jumlah wahana yang beroperasi terus berkurang. Kini, hanya tersisa tiga unit yang masih bisa dimainkan di Kota Pariaman.
“Sekarang hanya tiga unit karena keterbatasan tempat. Sebagian lainnya kami sebar di beberapa lokasi agar tetap bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Sensasi Murah, Adrenalin Tinggi
Untuk menikmati permainan ini, pengunjung hanya perlu membayar Rp5.000 per orang. Setiap kotak diisi sekitar empat hingga enam penumpang. Setelah penuh, buayan akan diputar oleh enam orang hingga mencapai kecepatan maksimal sebelum dilepaskan.
















