Sensasi ayunan yang tinggi dan cepat menjadi daya tarik utama, terutama bagi pengunjung yang mencari pengalaman berbeda saat Lebaran.
Mak Inun berharap keberadaan Buayan Kaliang tetap mendapat ruang di tengah pembangunan kota.
“Kalau bisa lokasi sekarang jangan dicor semen. Biarlah tetap tanah agar kami bisa memasang tonggak kayu dengan mudah,” ujarnya.
Bagi sebagian warga, Buayan Kaliang bukan sekadar permainan, tetapi juga nostalgia masa kecil.
Rini, pengunjung asal Sei Geringging, mengaku masih menikmati wahana tersebut hingga kini.
“Saya masih suka naik Buayan Kaliang karena menantang. Dulu sama teman-teman, sekarang bisa ajak suami dan anak,” katanya.
Buayan Kaliang bukan hanya hiburan, tetapi juga simbol warisan budaya yang bertahan di tengah perubahan zaman. Di Pariaman, permainan ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih punya tempat di hati masyarakat, terutama saat momen Lebaran. (kominfopariaman)
















