“Kami pedagang ini mencari kebutuhan hidup, untuk membeli beras, untuk makan, tidak untuk mencari kaya,” ucapnya.
Emi mengaku telah berjualan sejak kecil dan menjalani pekerjaan tersebut selama lebih dari 50 tahun. Menurutnya, uang yang dikumpulkan dari hasil berjualan sering kali hanya berasal dari keuntungan kecil.
“Pedagang ini banyak mengumpulkan uang seribu-seribu saja untuk hidup,” tuturnya.
Emi juga menyampaikan keberatannya jika kawasan tersebut ditertibkan untuk kemudian dijadikan taman. Ia menilai lokasi itu masih berada di kawasan pasar yang selama ini digunakan pedagang untuk mencari nafkah.
“Ini kan masih kawasan pasar. Ngapain digusur? Kecuali di luar kawasan pasar, ya digusur,” katanya.
Emi berharap pemerintah kota mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.
“Buka hati nurani. Mereka kan juga punya anak. Rasakan juga posisi kami,” ujarnya.
Modal dagangan belum kembali
Di tengah penertiban, Emi mengaku masih harus memikirkan modal usaha yang belum kembali. Ia menyebut modal dagangannya mencapai Rp40 juta.


















