Menembus Ajang Internasional
Perjalanan Zahra kemudian berlanjut hingga ke tingkat internasional. Pada akhir 2023, ia mengikuti kejuaraan terbuka pencak silat di Malaysia yang diikuti atlet dari sekitar delapan negara.
“Diikuti negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Kegiatannya sekitar satu minggu dan sangat berkesan,” ungkapnya.
Dari berbagai ajang yang diikuti, Zahra menyebut telah mengoleksi lebih dari 20 medali.
Mewakili Sumatera Barat di PON
Puncak pencapaian Zahra sejauh ini adalah saat ia dipercaya mewakili Sumatera Barat pada ajang Pekan Olahraga Nasional di Kudus, Jawa Tengah. Ia turun di nomor tanding perorangan dan berhasil membawa pulang medali perunggu.
“Iya, saya mendapatkan medali perunggu di cabang olahraga pencak silat pada ajang PON di Kudus,” katanya.
Menurut Zahra, proses menuju PON membutuhkan tahapan panjang. Ia harus melewati seleksi berjenjang hingga mengikuti training center (TC) selama sekitar satu bulan penuh yang dilaksanakan oleh IPSI Sumatera Barat.
“Setelah TC, pertandingan di Jawa Tengah berlangsung kurang lebih 10 hari,” jelasnya.
Sebanyak 10 atlet pencak silat Sumatera Barat diberangkatkan untuk mengikuti ajang tersebut.
Sistem Pertandingan dan Tantangan Fisik
Dalam ajang PON, setiap provinsi mengirimkan 10 atlet. Zahra sempat bertanding melawan atlet dari Jawa Timur dan Jambi. Namun, langkahnya terhenti di babak penyisihan terakhir.
“Saya kalah dari Jambi, sehingga memperoleh medali perunggu,” ujarnya.
Medali emas pada nomor tersebut diraih atlet dari Jawa Tengah, sementara medali perak diraih atlet dari Jambi.
Selain menghadapi lawan tangguh, Zahra juga bertanding dalam kondisi fisik yang tidak sepenuhnya prima.
“Saat itu kondisi pinggang saya sempat cedera, tapi saya tetap berusaha latihan dan akhirnya lolos,” katanya.
Selama pelaksanaan pertandingan di Jawa Tengah, ia juga harus beradaptasi dengan kondisi perjalanan yang cukup berat.
“Perjalanan darat dari bandara ke Kudus cukup berat. Saya mabuk perjalanan, sampai muntah dan sulit makan,” ungkap Zahra.
Pola Latihan Intensif Selama TC
Selama training center, Zahra dan atlet lainnya menjalani latihan dengan intensitas tinggi, yakni empat kali sehari, mulai dari pagi hingga sore hari. Waktu malam digunakan untuk istirahat penuh. Untuk penginapan, para atlet sempat menginap di vila selama tiga hari pertama sebelum berpindah ke Wisma Atlet hingga pertandingan selesai.
Pendidikan Tetap Berjalan, Dukungan Mengalir
Zahra menegaskan bahwa aktivitasnya sebagai atlet tidak mengganggu pendidikan. Pihak kampus memberikan izin resmi selama ia mengikuti pemusatan latihan dan PON, sehingga perkuliahan tetap dapat disesuaikan.
“Saat mengikuti PON, saya izin sekitar satu bulan dan kampus memberikan surat izin resmi,” katanya.
Dukungan serupa juga ia terima saat masih duduk di bangku SMA, termasuk ketika memasuki masa persiapan kelulusan. Dukungan terbesar datang dari keluarga.
“Mereka sangat mendukung saya sebagai atlet, terlebih setelah saya berhasil tampil di PON dan membawa nama daerah,” ujar Zahra.
Meski sempat merasa sedih karena belum meraih medali emas, ia mengaku terus dikuatkan oleh orang tua.
“Mereka menyampaikan bahwa bisa sampai ke tingkat PON saja sudah merupakan pencapaian yang sangat baik,” katanya.
Apresiasi dan Beasiswa
Prestasi Zahra di bidang olahraga turut berdampak positif pada jalur pendidikannya. Pihak kampus dan program studi memberikan dukungan penuh atas capaian tersebut. Sebagai bentuk apresiasi, Zahra menerima beasiswa dari Bank Nagari melalui program CSR senilai sekitar Rp4 juta. Selain itu, ia juga memperoleh bonus dari pemerintah daerah dan pihak lain.
“Penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus berprestasi dan menyeimbangkan antara pendidikan dan olahraga,” tutup Zahra.
















