Rifda juga menegaskan bahwa sumur bor yang dibangun memiliki spesifikasi teknis khusus dan berbeda dengan sumur rumah tangga biasa. Ia menyebut bahwa pembangunan dilakukan dengan pengeboran dalam, sistem pompa khusus, serta kapasitas yang disiapkan agar debit air tetap stabil dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
“Tidak sama seperti sumur rumah tangga biasa yang hanya menggunakan beberapa pipa dengan kedalaman dangkal. Ini sumur dalam dengan spesifikasi tertentu agar benar-benar bisa berfungsi saat dibutuhkan,” tuturnya.
Pihaknya memahami adanya perhatian publik terhadap penggunaan anggaran daerah. Namun, ia berharap masyarakat juga melihat tujuan besar dari pembangunan tersebut, yakni menghadirkan kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi potensi krisis air di perkotaan.
“Harapannya, ketika kondisi darurat terjadi, pemerintah sudah memiliki titik cadangan air yang siap dimanfaatkan untuk membantu masyarakat. Jadi yang dibangun bukan semata fasilitas, tetapi bentuk antisipasi dan perlindungan kebutuhan dasar masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan bahwa anggaran pembangunan sumur air tanah rumah dinas wagub menjadi sorotan publik karena menyedot dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencapai Rp250 juta.
Data resmi mengenai proyek bernilai fantastis ituu pertama kali ditemukan melalui platform digital assai.id/nemesis, sebuah situs kredibel yang mengintegrasikan dokumen pengadaan dan data anggaran pemerintah di seluruh Indonesia. Situs pelacak anggaran pemerintah tersebut bahkan menempatkan alokasi dana sumur rumah dinas itu ke dalam kategori “high” atau sangat tinggi untuk skala peruntukan pribadi.














