Aksi tersebut turut dihadiri ayah almarhum, Rafles. Ia menilai penanganan kasus anaknya berjalan lambat dan tidak memberikan kepastian hukum.
“Penanganan kasus ini tidak pasti. Nampaknya diulur-ulur. Kami ingin agar pihak yang bertanggung jawab dapat diproses secara hukum,” ujar Rafles.
Rafles juga mengungkapkan adanya kejanggalan pada kondisi jenazah anaknya. Ia menyebut Karim dalam keadaan sehat sebelum kejadian dan tidak memiliki riwayat penyakit.
“Saya pegang hidungnya sudah patah, saya pegang dadanya sudah remuk. Hingga kini saya tidak bisa melihat hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara, padahal hasilnya sudah keluar,” katanya.
















