Sejak Pandemi Covid-19, Win mencari tambahan penghasilan dengan mengumpulkan botol plastik bekas minuman di sekitar pangkalan ojeknya. Ia memasukkan botol-botol itu ke sebuah karung besar. Jika karung itu penuh, ia membawa karung itu ke rumahnya.
“Sebelum dijual, botol-botol itu harus dibersihkan. Setelah itu, saya menjual botol-botol itu ke pengepul botol bekas dengan harga Rp3.000 per kilogram. Satu karung itu berisi empat hingga lima kilogram botol plastik,” ujar Win.
Selain Win, Leni (55 tahun), tetangga Win juga mendapatkan penangguhan cicilan dari BTN. Ia mengatakan bahwa cicilannya sejak 2017 sebesar Rp880 ribu per bulan. Ketika Pandemi Covid-19 melanda pada 2020, ia kesulitan membayar cicilan karena penghasilannya tidak menentu.
“Saya mengajukan penangguhan cicilan ke BTN. Saya mendapatkan penangguhan cicilan selama sembilan bulan dalam masa Pandemi Covid-19. Setelah punya uang, saya membayar cicilan lagi, tetapi jumlahnya bertambah menjadi Rp920 ribu. Saya tidak menambah tenor cicilan, tetapi hanya menambah jumlah cicilan untuk menutup penangguhan pembayaran cicilan selama sembilan bulan,” ucap Leni.
Berbeda dengan Win yang mengantarkan langsung cicilannya ke BTN Kantor Cabang Padang karena tidak punya ponsel Android, Leni membayar cicilanya melalui aplikasi Bale BTN. Ia menyebut bahwa ia tidak perlu repot dan menghabiskan waktu setengah jam dari rumah ke kantor BTN untuk membayar cicilan melalui aplikasi m-banking BTN tersebut.















