Kabarminang — Waktu subuh belum berakhir ketika Syamsuir (66 tahun) menyalakan sepeda motornya di rumahnya, Perumahan Kandis Asri Nomor J2, Kelurahan Aia Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Setelah salat Subuh, ia memanaskan Honda Supra X-nya beberapa menit untuk bersiap-siap pergi bekerja sebagai tukang ojek pangkalan. Begitulah tiap hari ia memulai hari untuk mencari nafkah demi membiayai kehidupan keluarganya dan membayar cicilan rumah subsidinya.
Syamsuir atau yang biasa dipanggil Win mangkal di pangkalan ojek di Kelurahan Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, tepatnya di depan SMKN 2 Padang. Dari rumahnya di Aia Pacah ia menempuh waktu sekitar 20 hingga 25 menit untuk tiba di Simpang Haru.
Win mulai menjadi tukang ojek pada 2018. Sebelumnya, ia merupakan buruh angkut lepas di toko-toko di Simpang Haru dan sekitarnya, juga pekerja serabutan. Dari pekerjaan itu mendapatkan uang untuk membiayai istrinya. Karena pekerjaan itu, ia hanya sanggup mengontrak sebuah rumah petak di kawasan Simpang Haru dengan harga sewa Rp500 ribu per bulan, termasuk biaya air dan listrik.
Win menempati rumah kontrakan sempit itu sejak ia menikah pada 1998. Dengan penghasilannya yang hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan dasar lainnya, ia mengubur impiannya untuk punya rumah sendiri. Ia sadar bahwa dibutuhkan uang puluhan juta Rupiah untuk membeli atau membuat rumah. Ia juga tahu betul bahwa membeli rumah dengan kredit komersial di bank bunga dan cicilannya tinggi.
Suatu ketika, sebelum 2018, seorang teman memberikan pandangan kepada Win. Teman tersebut mengatakan bahwa daripada Win mengontrak rumah dengan biaya Rp500 ribu per bulan, lebih baik Win membeli rumah subsidi Program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN dengan cicilan sekitar Rp800 ribu sampai Rp1 juta per bulan.
“Kalau mencicil rumah, lama-lama cicilan itu lunas dan rumah menjadi milik kita sendiri. Kalau mengontrak rumah, walaupun sewanya murah, rumah bukan milik kita. Begitu kata teman saya. Sejak mendengar nasehat itu, saya berpikir untuk mencari penghasilan lebih agar bisa menabung untuk membayar uang muka membeli rumah subsidi KPR BTN dan membayar cicilannya tiap bulan,” ujar Win saat diwawancarai Kabarminang.com di rumahnya pada Rabu (11/2/2026).
Pada awal 2018 Win mendapatkan ide untuk menjadi tukang ojek. Ia lalu membeli sepeda motor Honda Supra X dengan sistem kredit.
Ide Win menjadi tukang ojek ternyata ide bagus. Ia mendapatkan penghasilan yang jauh lebih banyak daripada menjadi buruh angkut dan pekerja serabutan. Dengan mengojek di kawasan Tugu Simpang Haru, yang merupakan kawasan ramai dan strategis, ia memperoleh Rp150 ribu hingga Rp200 ribu sehari di luar uang makan dan bensin. Dengan penghasilan itu, ia dengan mudah membayar cicilan motor Rp800 ribu sebulan selama dua tahun.















