Kabarminang — Di tengah keterbatasan ekonomi, pasangan Laras Sadi dan Eni Cahya Ningtiyas, warga Dharmasraya, terus berjuang mendampingi putra mereka, Beyazid Shah Azmi (5 tahun), yang didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Setelah anak itu menjalani pemeriksaan dan terapi selama 2,5 tahun, kemampuan komunikasinya masih sangat terbatas. Kini keluarga tersebut menghadapi kebutuhan biaya penanganan lanjutan yang diperkirakan mencapai Rp70 juta.
Eni Cahya Ningtiyas (30 tahun), ibu Azmi, menceritakan bahwa tanda-tanda gangguan perkembangan putra pertamanya itu mulai terlihat sejak usia dini. Sebelumnya, Azmi juga mengalami keterlambatan bicara akibat kondisi tongue tie atau kelainan pada jaringan pengikat lidah. Ia kemudian menjalani operasi saat berusia tiga tahun.
“Namun, ada hal yang membuat keluarga semakin khawatir. Ketika berusia sekitar 1,5 tahun, Azmi sempat mampu mengucapkan beberapa kata. Akan tetapi, kemampuan berbicara tersebut kemudian menghilang,” ujar Eni kepada Kabarminang.com pada Minggu (1/11/2026).
Awalnya, Eni dan suaminya membawa Azmi ke dokter spesialis anak, dr. Andi. Setelah menjalani pemeriksaan, mereka disarankan melanjutkan pemeriksaan ke Kota Padang untuk mendapatkan penanganan tumbuh kembang anak.
Demi mendapatkan penanganan tersebut, Eni bersama suaminya rela menempuh perjalanan dari Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Dharmasraya, menuju sejumlah rumah sakit di Padang menggunakan sepeda motor.
Keputusan itu diambil untuk menghemat biaya perjalanan. Selain itu, Azmi kerap mengalami mabuk jika menggunakan kendaraan travel. Sementara itu, menyewa mobil membutuhkan biaya lebih besar, terlebih keluarga harus berada di Padang selama beberapa hari untuk menjalani pemeriksaan dengan sejumlah dokter.
Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, Azmi akhirnya didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme. Keluarga juga menjalani berbagai pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) otak di Rumah Sakit Otak Bukittinggi.
Sekitar tiga bulan lalu, Eni dan suaminya kembali membawa Azmi ke Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi anak. Di sana Azmi menjalani pemeriksaan laboratorium dengan biaya sekitar Rp1,4 juta, belum termasuk konsultasi dokter dan obat-obatan.


















