Meski berbagai upaya telah dilakukan, Eni mengaku kemampuan berbicara Azmi masih sangat terbatas. Putranya masih membutuhkan pendampingan dan terapi rutin untuk membantu perkembangan komunikasinya.
“Belum ada perkembangan yang signifikan. Setiap dia bicara itu hanya satu kata dan itu juga tidak berulang, dan jarang,” tutur Eni.
Selain kesulitan berkomunikasi, kata Eni, Azmi juga mengalami kendala dalam berinteraksi sosial. Putranya belum nyaman bertemu banyak orang, terutama ketika berada di lingkungan ramai.
Menurut Eni, Azmi masih membutuhkan penanganan medis dan obat-obatan. Ia mengatakan, tanpa obat yang diberikan sesuai penanganan dokter, Azmi bisa mengalami tantrum berat.
Saat ini, Azmi menjalani terapi dua kali dalam sepekan. Keluarga juga berencana memasukkannya ke pendidikan anak usia dini (PAUD) agar terbiasa berada di lingkungan bersama anak-anak lain dan secara bertahap melatih kemampuan interaksi sosialnya.
Di tengah upaya pengobatan tersebut, Eni mengatakan keluarga mendapat informasi mengenai pilihan terapi stem cell atau sel punca dari dokter yang menangani Azmi di Pekanbaru.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, biaya satu kali tindakan diperkirakan mencapai Rp40 juta dan pelaksanaannya di Jakarta,” ucap Eni.
Jika ditambah biaya transportasi dan kebutuhan hidup selama berada di Jakarta, keluarga memperkirakan dana yang dibutuhkan bisa mencapai Rp70 juta. Besarnya biaya tersebut membuat mereka belum mampu mengambil tindakan itu.


















