Oleh: Egi Priyatno*
Seusai hikayat Nabi Muhammad SAW dibacakan di Masjid Ishlah Pariangan, suasana Maulid Nabi di Jorong Pariangan, Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, berubah. Makanan yang sebelumnya tersusun rapi mulai menjadi sasaran anak-anak yang telah menunggu.
Mereka berkumpul, mengambil makanan dan saling berebut. Riuh yang muncul bukan bagian dari rangkaian ibadah, melainkan tradisi yang oleh masyarakat setempat disebut basirabuik.
Di Pariangan, peringatan Maulid Nabi memang dikenal dengan sebutan muluik. Peringatan tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempertahankan kebiasaan yang telah berlangsung dari waktu ke waktu.
Salah satu yang membuat muluik di Jorong Pariangan berbeda adalah basirabuik. Tradisi ini berlangsung setelah kegiatan bakayaik, yakni pembacaan hikayat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut dipimpin ulama atau siak dan menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Maulid Nabi.
Biasanya, kegiatan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga menjelang salat Zuhur. Kaum perempuan datang membawa makanan dari rumah menggunakan talam, yang umumnya ditutup dengan tuduang saji.
Makanan yang dibawa beragam, mulai dari makanan ringan hingga hidangan yang telah dipersiapkan untuk dinikmati bersama. Setelah bakayaik selesai, makanan kemudian dibagikan. Pada saat itulah basirabuik berlangsung dan suasana menjadi lebih ramai, terutama ketika anak-anak ikut mengambil makanan.
Dari Makan Bersama Menjadi Tradisi
Bagi masyarakat Pariangan, basirabuik bukan sekadar aktivitas berebut makanan. Di balik kegiatan yang terlihat sederhana itu terdapat kebiasaan berkumpul yang mempertemukan anak-anak dan orang dewasa dalam satu perayaan.
Elma, salah seorang warga Jorong Pariangan, mengatakan basirabuik pada awalnya tidak dirancang sebagai tradisi khusus. Kegiatan tersebut berangkat dari kebiasaan makan bersama setelah peringatan Maulid Nabi.
Dalam perkembangannya, anak-anak mulai saling bersaing untuk mendapatkan makanan. Kebiasaan tersebut kemudian berulang dari waktu ke waktu hingga akhirnya dikenal masyarakat sebagai basirabuik.
Karena itu, tradisi tersebut tidak memiliki aturan rumit atau perlengkapan khusus. Nilainya justru tumbuh dari kebiasaan masyarakat yang terus mengulangnya dalam setiap peringatan muluik.





















