Kabarminang – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatra Barat membawa sejumlah persoalan daerah dalam aksi memperingati Hari Tani Nasional 2026 di depan Kantor Gubernur Sumatra Barat, Kamis (24/9/2026).
Selain isu pertanian, mahasiswa menyoroti persoalan tambang ilegal, pendidikan, kelangkaan solar, pemulihan pascagalodo, pengembangan panas bumi atau geotermal, hingga pajak daerah.
Presiden Mahasiswa Universitas Baiturrahmah, Nova Rahmadhani, mengatakan momentum Hari Tani Nasional menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk kembali menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Menurut Nova, persoalan pertanian tidak dapat dipisahkan dari isu pertambangan. Ia menyebut terdapat lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan tambang.
“Kami juga menyuarakan terkait segeranya pemulihan secara cepat atau pengawalan dari Pemprov ke Pemko -Pemko supaya pemulihan pascagalodo itu cepat terealisasi dan tidak ada rakyat itu yang berharap-harap cemas ketika hujan datang karena ketakutan untuk banjir datang,” ujarnya.
Ia mengatakan mahasiswa meminta pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, termasuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang dinilai merugikan masyarakat.
“Kami menyikapi hal seperti ini supaya Pemko menekan mereka-mereka yang berbuat seenak-enaknya saja,” ujarnya.
Selain tambang ilegal, mahasiswa juga menyoroti rencana atau isu pengembangan panas bumi di sejumlah wilayah Sumatra Barat. Nova meminta pemerintah mempertimbangkan kondisi masyarakat dan sektor pertanian di sekitar lokasi yang akan dikembangkan.
“Kami juga menyikapi adanya isu-isu yang akan terjadinya pemohonan geotermal segala macam, itu juga kami mohon untuk dapat tetap mempertimbangkan bagaimana hasil-hasil para pertanian di sekitar sana dan juga penduduk di sekitar sana,” katanya.



















