Kabarminang – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan menyusul kabut asap yang melanda sejumlah wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tetangga.
Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Solok Selatan Nomor 800/0843/Umum/Dinkes-2026 tentang Pemakaian Masker bagi Masyarakat Sehubungan dengan Kondisi Kabut Asap di Wilayah Kabupaten Solok Selatan.
Dalam surat edaran tersebut disebutkan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah menurunkan kualitas udara di wilayah Solok Selatan. Kondisi ini juga berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi dan sore hari ketika kondisi kabut asap cenderung lebih pekat.
Kepala Dinas Kesehatan Solok Selatan, dr. Pendewal, mengatakan masyarakat dapat memperoleh masker secara gratis di puskesmas sesuai domisili masing-masing.
“Untuk masyarakat Solok Selatan, masker dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas sesuai domisili masing-masing,” ujar Pendewal.
Selain penggunaan masker, Pemkab Solok Selatan juga meminta kelompok rentan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kelompok tersebut meliputi bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru-paru, jantung, dan asma.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan asap secara langsung yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Kabut asap yang menyelimuti Solok Selatan saat ini disebut bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut, melainkan kiriman dari sejumlah daerah tetangga.
Plt. Kepala Dinas Perkim-LH dan Perhubungan Solok Selatan, Alfino Sendra, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan terakhir, tidak terdapat titik api (hotspot) di wilayah Solok Selatan.
“Kabut asap yang terjadi saat ini di wilayah Solok Selatan merupakan kiriman dari wilayah tetangga seperti Jambi, Pekanbaru, dan kabupaten tetangga,” ujar Alfino secara terpisah.
Meski tidak ditemukan hotspot, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan, khususnya di kawasan yang memiliki potensi kebakaran tinggi.
Sekretaris Daerah Solok Selatan, Dr. Syamsurizaldi, mengatakan terdapat tiga kecamatan yang menjadi wilayah rawan titik api karena memiliki kawasan perkebunan sawit.
Ketiga wilayah tersebut yakni Kecamatan Sangir Jujuan, Sangir Balai Janggo, dan Sangir Batang Hari.
“Yang rawan ada tiga kecamatan yang memiliki lahan sawit, tolong jadi perhatian. Kalau di kecamatan lain kan belum banyak yang budidaya sawit tapi di bawah rawan sekali. Mudah-mudahan tidak ada kejadian di tempat kita, tapi kita tetap antisipasi,” kata Syamsurizaldi.
















