Kabarminang – Sebuah usaha produksi susu kedelai tanpa pengawet bernama Soya Hilma di Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang dikembangkan M. Kamil Alhakimi (29), sejak April 2026 hingga kini terus berkembang dan mampu meraup omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.
Kamil mengatakan, ide mengembangkan usaha tersebut muncul ketika ia bersama istri dan anaknya berkunjung ke rumah pamannya di Pesisir Selatan. Saat itu, sang paman membuat susu kedelai untuk disuguhkan kepada tamu pada saat Lebaran.
“Saat mencicipi susu kedelai itu, anak saya Hilma ternyata sangat menyukai minuman tersebut. Melihat hal itu, saya meminta paman untuk mengajari cara membuatnya,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).
Sepulang dari Pesisir Selatan, Kamil mulai mencoba membuat susu kedelai sendiri di rumahnya di Tabek Panjang. Pada awalnya, minuman tersebut hanya dibuat untuk dikonsumsi keluarga dan dibagikan kepada sejumlah guru di tempat ia mengajar.
“Awalnya buat konsumsi sehari-hari saya, namun karena respons yang diterima cukup baik, saya akhirnya mengembangkannya menjadi usaha mulai 1 April 2026 dengan modal awal sekitar Rp30 ribu untuk membeli dua kilogram kedelai. Nama Soya Hilma diambil dari nama sang anak,” ujarnya.
Hingga kini, Kamil terus memproduksi susu kedelai dengan bahan sekitar dua kilogram kedelai per hari. Produk tersebut ditawarkan dalam sejumlah varian rasa, mulai dari original, cokelat, melon, stroberi, matcha, hingga kurma.
Ia menyebut, Soya Hilma juga menyediakan beberapa pilihan ukuran kemasan, mulai dari botol 200 mililiter hingga kemasan satu liter.
“Harga produk disesuaikan dengan ukuran dan varian. Susu kedelai original tersedia mulai sekitar Rp5 ribu, sedangkan varian rasa dalam botol 200 mililiter sekitar Rp10 ribu. Varian kurma dalam ukuran tersebut sekitar Rp8 ribu,” ujarnya.
















