Dalam pemasarannya, Kamil masih mengandalkan sistem by order, penjualan dari rumah, serta titip jual di sejumlah sekolah dan pesantren. Ia juga memanfaatkan Google Profil Bisnis untuk membantu pelanggan menemukan lokasi usahanya.
“Sekarang masih by order dari rumah dan titip-titip di sekolah. Ada juga pelanggan yang menemukan kami melalui Google Maps,” katanya.
Dari penjualan tersebut, omzet Soya Hilma rata-rata berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.
“Kalau penjualan bagus sekitar Rp5 juta sampai Rp7 juta sebulan. Kalau hujan, penjualan sistem titip biasanya berkurang,” ujarnya.
Meski mulai berkembang, Kamil mengaku masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait daya tahan susu kedelai karena produk Soya Hilma tidak menggunakan bahan pengawet.
“Kita tidak menggunakan bahan pengawet dalam setiap produknya. Kendala tersebut semakin terasa ketika terjadi pemadaman listrik karena produk yang tersimpan di dalam kulkas membutuhkan suhu dingin agar tetap terjaga,” sebutnya.
Selain penyimpanan, proses pembuatan susu kedelai juga membutuhkan waktu cukup panjang. Kedelai harus melalui sejumlah tahapan pengolahan dan perebusan sebelum siap dikemas dan dipasarkan.
Ke depan, Kamil berencana mengembangkan layanan delivery untuk menjangkau konsumen di sekitar Baso dan Canduang.
















