Kabarminang — Pesona Hoyak Tabuik Piaman 2026 resmi memasuki puncak pelaksanaan pada hari ini, Minggu (28/6/2026). Rangkaian kegiatan puncak berlangsung sejak dini hari hingga menjelang malam dengan berbagai prosesi adat yang sarat makna dan nilai budaya.
Tuo Tabuik Pasa, Zulbahri, menjelaskan bahwa Naiak Pangkek bukan sekadar proses teknis merangkai konstruksi tabuik, melainkan memiliki nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Pariaman.
“Prosesi Naiak Pangkek adalah simbol penyatuan. Bagian atas dan badan tabuik disatukan hingga menjadi utuh. Di balik proses itu ada makna kebersamaan, gotong royong, dan persatuan masyarakat yang terus dijaga dari generasi ke generasi,” katanya.
Penyatuan tabuik dilakukan secara terpisah oleh dua kelompok pewaris tradisi, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Untuk Tabuik Pasa, prosesi penyatuan dilaksanakan di kawasan Pasar Pariaman, sedangkan Tabuik Subarang melakukan Naiak Pangkek di kawasan Simpang Tugu Tabuik.
Setelah proses perakitan selesai, masing-masing tabuik akan dipersiapkan untuk mengikuti arak-arakan keliling Kota Pariaman sebelum dibawa menuju Pantai Gandoriah sebagai lokasi puncak prosesi adat.
Zulbahri menjelaskan, proses penyatuan dilakukan secara gotong royong karena ukuran dan bobot bagian atas tabuik yang cukup besar. Setelah bagian atas dan badan tabuik bertemu, sambungan diperkuat menggunakan rotan dan tali agar tetap kokoh selama arak-arakan berlangsung.
“Setelah bagian atas dan badan tabuik bertemu, sambungannya diperkuat menggunakan rotan dan tali agar kokoh. Itu penting karena tabuik nantinya akan dihoyak sepanjang arak-arakan hingga prosesi pembuangan ke laut,” ujarnya.
















