Kabarminang – Di tengah maraknya kuliner modern, makanan cepat saji, dan berbagai jajanan kekinian, Kue Pancung masih bertahan sebagai salah satu kuliner tradisional yang hingga kini kerap dijumpai di Kota Padang, Sumatera Barat.
Salah satu penjual, Iwin (66), warga Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara, memberi nama dagangannya Kue Pancung Katik. Ia kerap berjualan di Pasar Pagi Puruih, Kecamatan Padang Barat, pada pagi hari, kemudian melanjutkan aktivitas berjualan di Pasar Raya Padang dari siang hingga sore menggunakan becak motor.
Ia mengatakan, resep Kue Pancung tersebut merupakan warisan keluarga yang telah diteruskan selama tiga generasi. Resep itu diwariskan oleh orang tuanya, yang sebelumnya juga mendapatkannya dari generasi keluarga terdahulu. Setelah menikah, Iwin menetap di Padang dan melanjutkan usaha tersebut.
“Ini adalah hadiah terbesar yang diberikan oleh orang tua saya. Dengan warisan ini saya bisa menjalani hidup dengan baik, begitu juga untuk memenuhi kehidupan bagi keluarga kecil saya sampai saat ini,” katanya saat diwawancarai Sumbarkita, Kamis (13/8/2026).
Ia menyebut, proses membuat adonan Kue Pancung dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Adonan yang telah dibuat kemudian didiamkan hingga pagi. Sekitar pukul 05.30 WIB, ia menyiapkan peralatan dan bahan dagangan, lalu menaikkannya ke atas becak motor.
“Saya berangkat jualan itu sekitar pukul 06.30, yang dibawa itu dalam bentuk adonan dan dimasak di lokasi ketika ada pembeli,” ujarnya.
Ia mengatakan, Kue Pancung Katik tersedia dalam dua pilihan rasa, yakni pandan dan original. Pembeli juga dapat memilih topping susu putih atau cokelat, maupun tanpa susu. Satu kotak berisi sembilan potong dijual dengan harga Rp10 ribu.
Dalam sehari, Iwin biasanya menjual sekitar 30 hingga 50 kotak. Ia menyebut, pembelinya beragam, mulai dari orang dewasa, pelajar hingga mahasiswa.















