Kabarminang — Pedagang nasi di Kota Padang, Sumatera Barat, mengeluhkan kenaikan sejumlah harga bahan imbas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah. Berdasarkan data Google Finance hingga sekitar pukul 13.09 WIB, kurs dolar AS berada di level Rp17.913,80.
Salah seorang pedagang nasi ampera, Wati (36), mengatakan, kenaikan harga sejumlah bahan membuat biaya produksi usaha makanan meningkat, sementara harga jual tetap sama.
Ia merinci, sejumlah harga bahan yang merangkak naik di antaranya minyak goreng, cabai, bawang, santan, beras, plastik, hingga kertas pembungkus nasi.
“Harga bahan itu rata-rata naik drastis, seperti cabe yang sebelumnya harganya cuma 28 ribu per kilo sekarang jadi 50 ribu, kantong plastik dulu 7 ribu sekarang 11 ribu. Sementara jumlah barang yang dibeli harus tetap sama agar tidak berdampak pada cita rasa makanan,” katanya ditemui Sumbarkita di kedainya di kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur, Jumat (12/6/2026).
Meski biaya produksi meningkat, Wati mengatakan hingga kini belum menaikkan harga jual makanan yang dijualnya. Ia masih mempertahankan harga satu bungkus nasi senilai Rp13 ribu.
Ia melanjutkan, saat ini jumlah pembeli masih relatif normal dan belum mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan karena harga makanan yang dijual belum mengalami kenaikan.
Ia mengatakan, meski jumlah pembeli relatif stabil, keuntungan yang diperoleh mengalami penurunan. Sebelumnya berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp3 juta, kini turun menjadi sekitar Rp2 juta per hari.
“Walaupun pembeli tidak ada perubahan, namun untung yang diperoleh kecil dari biasanya, terkadang ada juga yang minta cabai atau kuah yang lebih,” tuturnya.
















