Kabarminang – Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Penguatan tersebut membuat mata uang Negeri Paman Sam kembali bergerak di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Google Finance hingga pukul 11.46 WIB, kurs dolar AS berada di level Rp17.960,60. Posisi itu turun 106,50 poin atau 0,59 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.067,10 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih mampu mempertahankan tren penguatan meski tekanan dari berbagai sentimen ekonomi global masih membayangi pasar keuangan.
Level Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu titik yang banyak diperhatikan pelaku pasar karena sering dianggap sebagai batas psikologis dalam perdagangan mata uang. Ketika dolar bergerak di bawah level tersebut, sentimen terhadap rupiah umumnya dinilai lebih positif dibandingkan saat dolar berada di atas Rp18.000.
Meski demikian, penguatan rupiah kali ini masih tergolong terbatas karena belum mencapai satu persen. Pelaku pasar masih mencermati berbagai perkembangan global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), pergerakan inflasi, hingga kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar mata uang negara berkembang.
Pergerakan kurs rupiah juga menjadi perhatian dunia usaha karena berdampak terhadap biaya impor, transaksi perdagangan internasional, serta harga sejumlah komoditas yang menggunakan dolar AS sebagai acuan.
Selain itu, perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar turut memengaruhi harga emas di dalam negeri. Penguatan rupiah biasanya menjadi salah satu faktor yang dapat menahan kenaikan harga emas domestik apabila harga emas dunia tidak mengalami lonjakan signifikan.
Hingga pukul 11.46 WIB, kurs dolar AS tercatat berada di level Rp17.960,60 atau melemah 0,59 persen dibandingkan hari sebelumnya.
















