Kabarminang – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp18.010 per dolar memunculkan dampak berbeda bagi pelaku usaha di Indonesia. Di satu sisi, eksportir komoditas seperti karet memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai konversi dolar, sementara di sisi lain importir kedelai menghadapi lonjakan biaya yang berpotensi menekan sektor industri dan daya beli masyarakat.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, mengatakan pelemahan rupiah tidak dapat dipandang sepenuhnya sebagai kabar baik maupun buruk bagi perekonomian nasional karena dampaknya berbeda pada setiap sektor.
Menurutnya, komoditas ekspor seperti karet menjadi salah satu pihak yang diuntungkan ketika nilai tukar rupiah melemah. Sebab, transaksi ekspor umumnya menggunakan dolar AS sehingga nilai penerimaan dalam rupiah meningkat.
“Rupiah yang melemah menaikkan penerimaan domestik bagi komoditas ekspor. Jika kurs bergerak ke 18.010, eksportir karet menerima keuntungan konversi besar dari setiap dolar hasil penjualan,” kata Syafruddin, Minggu (7/6/2026).
Namun, kondisi sebaliknya dialami oleh sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Syafruddin mencontohkan komoditas kedelai yang saat ini menghadapi tekanan biaya akibat kenaikan kurs dolar.
Ia menjelaskan bahwa importir harus mengeluarkan dana rupiah lebih besar untuk mendatangkan kedelai dari luar negeri. Dampaknya tidak hanya dirasakan importir, tetapi juga produsen tahu dan tempe, industri pakan ternak, pedagang, hingga konsumen akhir.
“Importir kedelai menghadapi tekanan berlawanan. Kenaikan biaya impor ini langsung menekan produsen tahu-tempe, industri pakan ternak, pedagang, hingga konsumen akhir,” ujarnya.
Syafruddin menilai pemerintah perlu melihat pelemahan rupiah bukan sekadar sebagai persoalan makroekonomi, melainkan juga sebagai isu distribusi keuntungan dan beban di antara para pelaku ekonomi.
















