“Pemerintah perlu membaca pelemahan rupiah ini sebagai persoalan distribusi. Ada pihak yang menikmati kenaikan penerimaan, namun ada kelompok lain yang menanggung lonjakan biaya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga karet saat ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni harga komoditas global dalam dolar AS, pelemahan rupiah, serta gangguan pasokan di pasar.
Menurutnya, kenaikan harga akan semakin tajam ketika permintaan global meningkat di tengah keterbatasan stok.
“Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, harga komoditas ekspor otomatis naik. Kenaikan harga menjadi lebih tajam jika permintaan global membaik di saat stok pasar menipis,” katanya.
Meski demikian, Syafruddin mengingatkan bahwa keuntungan dari kenaikan harga karet tidak otomatis dirasakan secara merata oleh petani. Keuntungan terbesar umumnya lebih cepat dinikmati oleh eksportir, pedagang besar, dan perusahaan pengolah yang memiliki akses langsung ke pasar internasional.
“Pihak yang paling cepat menikmati keuntungan kurs ini adalah eksportir, pedagang besar, serta perusahaan pengolah yang memiliki akses langsung ke pasar internasional,” tuturnya.
Ia juga menyoroti masih lemahnya posisi tawar petani karet dalam rantai tata niaga. Panjangnya jalur distribusi, rendahnya kualitas bahan olah karet (bokar), serta ketergantungan pada tengkulak membuat petani hanya memperoleh sebagian kecil dari keuntungan yang tercipta.
“Petani karet baru ikut untung jika struktur pasar sehat. Kenyataannya, petani menerima bagian kecil karena rantai tata niaga panjang, kualitas bokar rendah, dan ketergantungan pada tengkulak,” jelasnya.
Selain petani, Syafruddin menyebut industri domestik yang menggunakan bahan baku karet juga berpotensi terdampak negatif akibat kenaikan harga. Kelompok masyarakat berpendapatan tetap pun dinilai rentan menghadapi penurunan daya beli akibat tekanan inflasi.
Sementara itu, pada komoditas kedelai, dampak kerugian dinilai lebih luas karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor. Kondisi tersebut membuat produsen tahu dan tempe menghadapi pilihan sulit untuk mempertahankan usaha mereka.
“Untuk kedelai, kerugiannya meluas. Produsen tahu dan tempe menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual, mengecilkan ukuran produk, atau menekan margin keuntungan mereka,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, Syafruddin mendorong pemerintah segera menyiapkan kebijakan yang mampu melindungi kelompok rentan dari dampak pelemahan rupiah, termasuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan memastikan keuntungan dari kenaikan kurs tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar.
“Kenaikan harga akibat pelemahan rupiah wajib diikuti kebijakan proteksi. Pemerintah harus melindungi petani kecil, menjaga pasokan pangan, dan mencegah keuntungan kurs berhenti di pedagang besar,” pungkasnya.
















