Kabarminang – Jalur kereta api nonaktif yang menghubungkan sejumlah daerah di Sumatera Barat berpeluang kembali beroperasi setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) memasukkan 248,5 kilometer lintasan di provinsi itu ke dalam rencana reaktivasi. Investasi tahap awal yang disiapkan diperkirakan mencapai Rp300 miliar.
Informasi tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Menurut Andre, Sumatera Barat menjadi salah satu daerah prioritas dalam program reaktivasi jalur kereta api di Pulau Sumatra. Berdasarkan paparan PT KAI, total jalur yang direncanakan untuk diaktifkan kembali di provinsi tersebut mencapai 248,5 kilometer.
“Alhamdulillah, dalam rapat dengan Dirut PT KAI, kami mendapatkan informasi bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap pengembangan kereta api di Sumatera Barat. Salah satunya melalui program reaktivasi jalur kereta api yang selama ini tidak beroperasi,” ujar Andre, dikutip Sabtu (6/6).
Adapun jalur yang masuk dalam rencana reaktivasi meliputi lintas Naras–Sungai Limau sepanjang 6,5 kilometer, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanan sepanjang 162 kilometer, Muarakalaban–Sawahlunto sepanjang 4 kilometer, Padang Panjang–Batuabal sepanjang 18 kilometer, Batuabal–Solok sepanjang 34 kilometer, serta Solok–Muarakalaban sepanjang 24 kilometer.
Andre menilai program tersebut akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, menurunkan biaya logistik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, pembangunan kembali jaringan kereta api akan menghadirkan moda transportasi yang lebih murah, aman, dan efisien bagi masyarakat Sumatera Barat.
“Presiden Prabowo ingin membangun infrastruktur yang berdampak langsung kepada masyarakat. Reaktivasi jalur kereta api di Sumbar akan membuka akses transportasi yang lebih murah, aman, dan efisien. Untuk tahap awal, diperkirakan investasi yang disiapkan mencapai sekitar Rp300 miliar,” kata Andre.
Selain itu, pemerintah juga disebut tengah menyusun peta jalan pengembangan jaringan kereta api di Pulau Sumatra untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dalam jangka panjang.
Andre menegaskan perhatian pemerintah terhadap Sumatera Barat dalam program pengembangan transportasi nasional menunjukkan komitmen pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.
Sementara itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan perusahaan tengah menyiapkan proyek besar pengembangan jaringan Kereta Trans Sumatra dengan kebutuhan investasi mencapai sekitar Rp350 triliun.
Proyek tersebut dirancang untuk menghubungkan jaringan kereta api dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung guna memperkuat mobilitas penumpang dan distribusi logistik di seluruh Pulau Sumatra.
Dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Bobby menjelaskan bahwa pengembangan jaringan kereta api di Sumatra menjadi bagian dari roadmap transformasi KAI periode 2026–2030. Selain pembangunan sekitar 1.110 kilometer jalur baru, KAI juga menargetkan reaktivasi 726 kilometer jalur nonaktif yang tersebar di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
















