Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan tambang tersebut kembali beroperasi setelah pemeriksaan aparat kepolisian. Berdasarkan video yang diterima Sumbarkita, terlihat satu unit alat berat beroperasi di area tambang. Rekaman tersebut memperlihatkan aktivitas pengolahan material tambang emas di lokasi terbuka.
Warga mengaku resah karena aktivitas tambang disebut berlangsung hampir selama 24 jam. Mereka mengeluhkan dampak terhadap lingkungan, terutama kondisi air yang menjadi keruh dan tidak lagi dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Air menjadi keruh sehingga tidak bisa digunakan, seperti mencuci pakaian, piring, dan kebutuhan lainnya. Jangankan untuk aktivitas lain, untuk bercebok saja rasanya ngeri,” ujar salah seorang warga kepada Sumbarkita, pada Minggu (1/3).
Warga berharap para penambang dapat membatasi jam operasional. Mereka meminta aktivitas tambang dilakukan pada malam hari hingga pagi agar masyarakat tetap bisa beraktivitas pada siang hari.
“Dari pagi sampai sore sekitar pukul 18.00 WIB biarkan kami melakukan aktivitas sehari-hari,” kata warga lainnya.
Menurut warga, sebagian besar masyarakat setempat sebenarnya berprofesi sebagai petani. Aktivitas mendulang emas secara tradisional dinilai sulit menghasilkan, sehingga tidak menjadi mata pencarian utama bagi banyak warga.
Sementara itu, Wali Nagari Galugua, Wendri, mengatakan aktivitas tambang emas tersebut menjadi sumber pendapatan bagi sebagian masyarakat setempat. Ia menyebut pemerintah nagari berada pada posisi sulit untuk menghentikan kegiatan tersebut.
“Pemerintahan nagari setempat tidak berani mengganggu aktivitas tambang karena itu merupakan mata pencarian masyarakat,” ujar Wendri.