Kabarminang – Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Padang Pariaman memang telah berakhir. Namun bagi warga terdampak di Nagari Anduriang, khususnya Korong Sipinang Sipisang, kenyataan pahit justru masih terus berlangsung.
Sebanyak 86 kepala keluarga tercatat kehilangan rumah akibat banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di hunian sementara (huntara), sementara lainnya terpaksa mengontrak rumah dengan biaya yang ditanggung pemerintah.
Tokoh pemuda dan staf nagari bernama Rengga mengatakan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah bahan pokok untuk bertahan hidup.
“Kalau status darurat memang sudah selesai. Tapi kondisi masyarakat kami belum pulih. Sembako sangat dibutuhkan sekarang,” ujarnya kepada Sumbarkita, Rabu (25/2).
Menurutnya, 86 kepala keluarga yang terdampak berasal dari sejumlah titik terdampak paling parah. Warga asal Asam Pulau kini menempati huntara yang dibangun pascabencana.
Sementara warga dari kawasan Balah Aia memilih mengontrak rumah dengan biaya Rp600 ribu per bulan yang sementara ini dibayarkan oleh pemerintah daerah.
“Kontrak itu memang dibantu pemerintah, tapi sifatnya sementara. Ke depan mereka tentu butuh hunian tetap. Tidak mungkin selamanya mengontrak,” jelas Rengga.
Selain persoalan tempat tinggal, sumber penghidupan warga juga belum sepenuhnya pulih. Banyak sawah yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi berubah menjadi aliran sungai akibat tergerus banjir.
Salah seorang warga terdampak, Herman (58), mengaku penghasilannya hilang sejak lahan pertaniannya rusak total.














