“Sekarang kami tidak punya sawah lagi. Untuk makan sehari-hari mengandalkan kerja serabutan. Bantuan sembako sudah jarang. Ramadan ini terasa berat,” katanya.
Ia menyebutkan, di awal bencana bantuan memang mengalir. Namun setelah masa tanggap darurat dinyatakan selesai, distribusi bantuan mulai berkurang drastis.
“Kami paham pemerintah punya aturan. Tapi kebutuhan hidup tidak ikut berhenti. Beras tetap harus dibeli, anak-anak tetap harus makan,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Nurhayati, ibu rumah tangga yang kini tinggal di huntara. Ia berharap ada perhatian lanjutan, terutama terkait kepastian pembangunan hunian tetap (huntap).
“Kami bersyukur masih ada tempat berteduh. Tapi kami ingin kepastian. Sampai kapan di huntara? Kami ingin punya rumah tetap supaya bisa memulai hidup lagi,” ujarnya.
Warga Korong Sipinang Sipisang kini berada di persimpangan, tanggap darurat telah usai secara administratif, tetapi kebutuhan dasar seperti pangan dan tempat tinggal masih jauh dari kata aman.
Di tengah ramadan, mereka tak lagi hanya berjuang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan ketidakpastian. Harapan mereka sederhana, bantuan sembako untuk bertahan hari ini, dan hunian tetap untuk membangun masa depan esok hari.
















