Penulis: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Kabarminang – Ramadan selalu datang dengan janji sunyi. Ia mengajak kita memperlambat langkah, menahan diri, membersihkan hati. Tapi di zaman sekarang, ada satu hal yang sering luput kita waspadai: bukan lapar, bukan haus, melainkan dorongan untuk dilihat. Bahkan dalam ibadah.
Beberapa tahun terakhir, linimasa kita ramai dengan ajakan “tahajud yuk”, “one day one juz”, “sedekah subuh”, lengkap dengan foto sajadah, tangkapan layar alarm pukul 03.00, atau video singkat suasana masjid sebelum fajar. Niatnya mungkin baik. Mengingatkan. Menguatkan. Menyemangati. Tapi Ramadhan juga menguji niat. Di titik itulah ujub dan riya bisa menyelinap tanpa kita sadari.
Indonesia hari ini adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Kini, jumlah pengguna internet kita sudah menembus lebih dari 220 juta orang. Sekitar 190 juta di antaranya aktif bermedia sosial. Rata-rata waktu yang dihabiskan orang Indonesia di media sosial mencapai lebih dari 3 jam per hari. Itu bukan angka kecil. Itu artinya, sebagian besar hidup sosial dan psikologis kita kini berkelindan dengan layar.
Algoritma media sosial bekerja sederhana: yang banyak dilihat, disukai, dan dibagikan akan semakin dimunculkan. Konten religius di bulan Ramadhan cenderung naik signifikan. Data Google Trends setiap Ramadhan menunjukkan lonjakan pencarian kata kunci seperti “tahajud”, “sedekah”, “doa malam lailatul qadar”. Di satu sisi, ini kabar baik: ada gairah spiritual. Tapi di sisi lain, ada potensi komodifikasi kesalehan.
Masalahnya bukan pada mengajak orang berbuat baik. Masalahnya ada pada motif dan dampak psikologisnya. Dalam psikologi sosial, dikenal konsep self-presentation, yakni kecenderungan manusia menampilkan citra diri yang diinginkan di hadapan orang lain. Media sosial memperbesar ruang itu. Kita bisa mengkurasi kehidupan, memilih momen terbaik, menampilkan versi diri paling “saleh”, paling “produktif”, paling “dermawan”.
Studi global beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa media sosial meningkatkan kecenderungan social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain. Ketika orang melihat unggahan ibadah orang lain, ada dua kemungkinan respons: terinspirasi atau justru merasa rendah diri. Pada remaja dan dewasa muda, penelitian menunjukkan bahwa paparan intens terhadap konten yang memunculkan standar moral atau sosial tertentu dapat meningkatkan kecemasan dan perasaan tidak cukup baik.
Bayangkan seseorang yang sudah berjuang bangun sahur saja terasa berat. Lalu ia membuka media sosial dan melihat deretan unggahan tentang tahajud rutin setiap malam, khatam Al-Qur’an berkali-kali, sedekah jutaan rupiah. Alih-alih termotivasi, ia bisa merasa gagal. Dalam diam, ia berkata, “Saya tidak sebaik mereka.” Di sinilah ibadah yang seharusnya personal dan intim berubah menjadi arena perbandingan sosial.
Lebih jauh lagi, ada risiko yang lebih halus: kita mulai mengukur kualitas ibadah dengan respons publik. Berapa like? Berapa komentar “Masya Allah”? Berapa share? Tanpa sadar, notifikasi menjadi validasi. Padahal dalam ajaran agama, nilai ibadah justru ditentukan oleh keikhlasan, yaitu oleh sesuatu yang tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak terukur oleh manusia.
Ujub adalah merasa bangga pada diri sendiri atas amal yang dilakukan. Riya adalah melakukan amal agar dilihat dan dipuji. Keduanya berbahaya bukan karena tampak besar, tetapi karena sering kali sangat kecil dan nyaris tak terasa. Dalam tradisi keagamaan, bahkan disebutkan bahwa riya sekecil biji sawi pun bisa merusak nilai amal. Artinya, ini bukan soal intensitas, tetapi soal orientasi hati.
















