Selasa, Maret 31, 2026
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
No Result
View All Result
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
kabarminang.com
No Result
View All Result
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis

Ramadan dan Godaan Ujub yang Menggerogoti

Redaksi
Minggu, 22 Februari 2026 17:31
in Artikel & Opini
Foto: Ilustrasi AI

Foto: Ilustrasi AI


Penulis: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.

Kabarminang – Ramadan selalu datang dengan janji sunyi. Ia mengajak kita memperlambat langkah, menahan diri, membersihkan hati. Tapi di zaman sekarang, ada satu hal yang sering luput kita waspadai: bukan lapar, bukan haus, melainkan dorongan untuk dilihat. Bahkan dalam ibadah.

Beberapa tahun terakhir, linimasa kita ramai dengan ajakan “tahajud yuk”, “one day one juz”, “sedekah subuh”, lengkap dengan foto sajadah, tangkapan layar alarm pukul 03.00, atau video singkat suasana masjid sebelum fajar. Niatnya mungkin baik. Mengingatkan. Menguatkan. Menyemangati. Tapi Ramadhan juga menguji niat. Di titik itulah ujub dan riya bisa menyelinap tanpa kita sadari.

Indonesia hari ini adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Kini, jumlah pengguna internet kita sudah menembus lebih dari 220 juta orang. Sekitar 190 juta di antaranya aktif bermedia sosial. Rata-rata waktu yang dihabiskan orang Indonesia di media sosial mencapai lebih dari 3 jam per hari. Itu bukan angka kecil. Itu artinya, sebagian besar hidup sosial dan psikologis kita kini berkelindan dengan layar.

Algoritma media sosial bekerja sederhana: yang banyak dilihat, disukai, dan dibagikan akan semakin dimunculkan. Konten religius di bulan Ramadhan cenderung naik signifikan. Data Google Trends setiap Ramadhan menunjukkan lonjakan pencarian kata kunci seperti “tahajud”, “sedekah”, “doa malam lailatul qadar”. Di satu sisi, ini kabar baik: ada gairah spiritual. Tapi di sisi lain, ada potensi komodifikasi kesalehan.

Masalahnya bukan pada mengajak orang berbuat baik. Masalahnya ada pada motif dan dampak psikologisnya. Dalam psikologi sosial, dikenal konsep self-presentation, yakni kecenderungan manusia menampilkan citra diri yang diinginkan di hadapan orang lain. Media sosial memperbesar ruang itu. Kita bisa mengkurasi kehidupan, memilih momen terbaik, menampilkan versi diri paling “saleh”, paling “produktif”, paling “dermawan”.

Studi global beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa media sosial meningkatkan kecenderungan social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain. Ketika orang melihat unggahan ibadah orang lain, ada dua kemungkinan respons: terinspirasi atau justru merasa rendah diri. Pada remaja dan dewasa muda, penelitian menunjukkan bahwa paparan intens terhadap konten yang memunculkan standar moral atau sosial tertentu dapat meningkatkan kecemasan dan perasaan tidak cukup baik.

Bayangkan seseorang yang sudah berjuang bangun sahur saja terasa berat. Lalu ia membuka media sosial dan melihat deretan unggahan tentang tahajud rutin setiap malam, khatam Al-Qur’an berkali-kali, sedekah jutaan rupiah. Alih-alih termotivasi, ia bisa merasa gagal. Dalam diam, ia berkata, “Saya tidak sebaik mereka.” Di sinilah ibadah yang seharusnya personal dan intim berubah menjadi arena perbandingan sosial.

Lebih jauh lagi, ada risiko yang lebih halus: kita mulai mengukur kualitas ibadah dengan respons publik. Berapa like? Berapa komentar “Masya Allah”? Berapa share? Tanpa sadar, notifikasi menjadi validasi. Padahal dalam ajaran agama, nilai ibadah justru ditentukan oleh keikhlasan, yaitu oleh sesuatu yang tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak terukur oleh manusia.

Ujub adalah merasa bangga pada diri sendiri atas amal yang dilakukan. Riya adalah melakukan amal agar dilihat dan dipuji. Keduanya berbahaya bukan karena tampak besar, tetapi karena sering kali sangat kecil dan nyaris tak terasa. Dalam tradisi keagamaan, bahkan disebutkan bahwa riya sekecil biji sawi pun bisa merusak nilai amal. Artinya, ini bukan soal intensitas, tetapi soal orientasi hati.


halaman 1 dari 2
12Selanjutnya
Tags: algoritma media sosialekonomi perhatianfenomena religius di medsosibadah di era digitalkesehatan mental remajakomodifikasi kesalehanmedia sosial dan agamaramadhan 1447 hijriahrefleksi ramadhanself presentationsocial comparisonujub dan riya

Berita Terkait

Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

29 Maret 2026
Pasca Lebaran dan Masa Depan Budaya Belajar

Pasca Lebaran dan Masa Depan Budaya Belajar

28 Maret 2026
Idul Fitri: Ritual Sosial dan Ujian Persatuan

Idul Fitri: Ritual Sosial dan Ujian Persatuan

20 Maret 2026
Pancasila dan Pengalaman Anak: Mentransformasi Nilai Jadi Sikap

Pancasila dan Pengalaman Anak: Mentransformasi Nilai Jadi Sikap

15 Maret 2026
Pentingnya Sekolah Mengajarkan Refleksi Diri di Akhir Ramadan

Pentingnya Sekolah Mengajarkan Refleksi Diri di Akhir Ramadan

10 Maret 2026
Ramadan, Lapar, dan Ketidaksetaraan Pendidikan

Ramadan, Lapar, dan Ketidaksetaraan Pendidikan

1 Maret 2026
Next Post
Hamil dan Menyusui Saat Ramadan, Ini Penjelasan Muhammadiyah soal Puasa dan Fidyah

Hamil dan Menyusui Saat Ramadan, Ini Penjelasan Muhammadiyah soal Puasa dan Fidyah

Tinggalkan Komentar

TERPOPULER

2 Ayah Setubuhi Anak Kandung di Limapuluh Kota, 1 Pelaku Ditangkap, 1 Lagi Tewas Tergantung

2 Ayah Setubuhi Anak Kandung di Limapuluh Kota, 1 Pelaku Ditangkap, 1 Lagi Tewas Tergantung

29 Maret 2026

Dilaporkan Setubuhi Anak Kandung, Pria di Limapuluh Kota Kabur, Ditemukan Tewas Tergantung

Dilaporkan Setubuhi Anak Kandung, Pria di Limapuluh Kota Kabur, Ditemukan Tewas Tergantung

28 Maret 2026

Disetubui Ayah Kandung 3 Kali, Remaja di Limapuluh Kota Hamil 7 Bulan

Dilaporkan ke Kepolisian karena Setubuhi Anak Kandung, Pria di Limapuluh Kota Minum Racun

27 Maret 2026

4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Padang, Korban 4 Orang

4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Padang, Korban 4 Orang

26 Maret 2026

Tabrakan di Jalan Raya Padang-Bukittinggi, Mahasiswa Pemotor Putus Kaki Usai Disalip Mobil

Tabrakan di Jalan Raya Padang-Bukittinggi, Mahasiswa Pemotor Putus Kaki Usai Disalip Mobil

26 Maret 2026

Tanpa Jaket Pelampung, 25 Orang Dievakuasi Usai Boat Wisata Karam di Perairan Padang

Tanpa Jaket Pelampung, 25 Orang Dievakuasi Usai Boat Wisata Karam di Perairan Padang

24 Maret 2026

Baru Beli Sabu-Sabu, Seorang Pria di Kota Solok Ditangkap di Pinggir Jalan

Baru Beli Sabu-Sabu, Seorang Pria di Kota Solok Ditangkap di Pinggir Jalan

26 Maret 2026

Informasi

  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Berita

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau

© 2026 Kabarminang.com  All right reserved

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2026 Kabarminang.com All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Advertorial
  • Artikel & Opini
  • Bank Nagari
  • DPRD Sumatera Barat
  • Ekonomi & Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Ranah Minang
  • Pilkada
  • Politik
  • PT Semen Padang
  • Ramadhan
  • Tekno
  • Kabar Sumbar
  • Kabupaten Dharmasraya
  • Kabupaten Limapuluh Kota
  • Kabupaten Padang Pariaman
  • Kabupaten Pasaman Barat
  • Kabupaten Sijunjung
  • Kabupaten Solok
  • Kabupaten Solok Selatan
  • Kota Bukittinggi
  • Kota Padang
  • Kota Padang Panjang
  • Kota Pariaman
  • Kota Payakumbuh
  • Kota Solok
  • Kabar Rantau

© 2025 KabarMinang.com.