Senin, Oktober 5, 2026
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
No Result
View All Result
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
kabarminang.com
No Result
View All Result
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
Home Artikel & Opini

Pentingnya Sekolah Mengajarkan Refleksi Diri di Akhir Ramadan

Redaksi
Selasa, 10 Maret 2026 | 16:47
in Artikel & Opini
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.

Kabarminang – Setiap akhir Ramadan selalu membawa suasana yang khas. Masjid makin ramai, khataman Al-Qur’an digelar di mana-mana, dan ceramah-ceramah menekankan satu pesan penting: muhasabah alias refleksi diri. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tapi menjadi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah menjadi manusia yang lebih baik?

Namun, ada pertanyaan menarik jika kita melihatnya dari perspektif pendidikan: apakah sekolah juga mengajarkan refleksi diri seperti yang diajarkan Ramadhan? Pertanyaan ini menjadi penting, sebab sekolah adalah ruang sosial paling besar bagi anak-anak setelah keluarga. Di sanalah karakter, kebiasaan berpikir, dan orientasi hidup dibentuk. Jika Ramadhan mengajarkan refleksi diri setiap tahun, maka seharusnya sekolah menjadi tempat latihan refleksi setiap hari. Sayangnya, realitas pendidikan kita menunjukkan cerita yang agak berbeda.

Sistem pendidikan modern sering kali terjebak pada satu ukuran yang sangat sempit: angka. Nilai ujian, peringkat kelas, skor tes, dan capaian akademik menjadi indikator utama keberhasilan siswa. Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya membentuk kemampuan kognitif, tapi juga kesadaran moral dan refleksi diri.

Data terbaru menunjukkan tantangan tersebut masih nyata. Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan terbaru yang melibatkan 36.888 satuan pendidikan di 507 kabupaten/kota dengan 449.865 responden menunjukkan bahwa praktik ketidakjujuran akademik masih sangat tinggi. Sekitar 78% sekolah masih menemukan praktik menyontek, bahkan 98% kampus melaporkan fenomena serupa. Selain itu, 45% siswa mengaku mengalami ketidakdisiplinan akademik, dan 22% sekolah masih menemukan praktik gratifikasi terkait nilai.

Angka-angka ini memberi pesan yang cukup jelas: sekolah mungkin mengajarkan cara menjawab soal, tapi belum sepenuhnya mengajarkan cara memeriksa diri sendiri. Menyontek bukan sekadar pelanggaran akademik. Ia adalah kegagalan refleksi moral.

Pemerintah sebenarnya sudah lama menyadari pentingnya pendidikan karakter. Berbagai program diluncurkan, mulai dari Penguatan Pendidikan Karakter hingga berbagai gerakan pembiasaan di sekolah.

Pada tahun 2025 misalnya, pemerintah meluncurkan kebijakan penguatan karakter melalui pembiasaan di satuan pendidikan, yang melibatkan 94.823 kepala sekolah serta lebih dari 1,8 juta murid dan orang tua dalam survei nasional untuk memetakan implementasi kebijakan tersebut. Namun, implementasi di lapangan tidak selalu mudah.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter sering kali masih bersifat simbolik. Dalam sebuah studi terhadap ratusan siswa sekolah dasar, hanya sekitar 36,33% siswa kelas V dan 30,33% siswa kelas VI yang tergolong memiliki karakter “cukup baik”, sementara implementasi pendidikan karakter masih terbatas karena keterbatasan peran guru dan sistem sekolah. Dengan kata lain, pendidikan karakter masih lebih banyak menjadi slogan daripada praktik pedagogis sehari-hari.

Ada satu hal sederhana yang sering hilang dari sekolah: waktu untuk berhenti sejenak. Di ruang kelas, siswa terus bergerak dari satu mata pelajaran ke pelajaran lain. Kurikulum padat, target materi banyak, dan evaluasi terus menunggu. Semua orang sibuk mengejar capaian akademik. Padahal, refleksi membutuhkan jeda.

Ramadhan justru mengajarkan kebalikannya. Ia memperlambat ritme hidup. Orang diajak menahan diri, merenung, dan menilai kembali perilakunya. Di banyak sekolah di dunia, refleksi diri bahkan menjadi bagian penting dari proses belajar. Siswa diminta menulis jurnal refleksi, berdiskusi tentang kesalahan, atau melakukan evaluasi pribadi setelah belajar.

Di Indonesia, praktik seperti ini masih jarang. Akibatnya, banyak siswa yang tahu cara menjawab soal, tapi tidak terbiasa menjawab pertanyaan yang lebih mendalam: siapa saya, apa nilai yang saya pegang, dan bagaimana saya harus bersikap?

Tantangan pendidikan Indonesia sebenarnya bukan hanya soal karakter, tapi juga kemampuan akademik. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru menunjukkan bahwa kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Hal ini menjadi perhatian serius dalam sistem pendidikan nasional.

Namun, jika pendidikan hanya fokus mengejar peningkatan skor akademik, kita berisiko melupakan dimensi lain yang tidak kalah penting: literasi moral. Siswa mungkin bisa memecahkan soal matematika yang rumit, tapi apakah mereka mampu memecahkan dilema etika dalam kehidupan? Ramadhan seakan mengingatkan kita bahwa kecerdasan sejati bukan hanya kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan hati.

Jika sekolah ingin benar-benar membentuk manusia yang utuh, maka refleksi diri perlu menjadi metode pendidikan yang sistematis. Ada beberapa langkah sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan sekolah:

Pertama, membiasakan jurnal refleksi di kelas. Siswa tidak hanya menulis apa yang dipelajari, tapi juga bagaimana mereka belajar dan apa yang mereka rasakan. Kedua, memberikan ruang untuk diskusi nilai. Pendidikan bukan hanya soal fakta, tapi juga soal makna.

Ketiga, mengubah evaluasi dari sekadar angka menjadi proses belajar. Kesalahan tidak selalu harus dihukum, tapi bisa menjadi bahan refleksi. Keempat, memperkuat peran guru sebagai pembimbing moral, bukan sekadar pengajar materi.

Ramadhan selalu berakhir dengan satu pertanyaan klasik: apakah kita berubah? Pertanyaan ini sebenarnya sangat pedagogis. Ia menilai bukan hanya apa yang kita lakukan, tapi siapa yang kita menjadi.

Jika pendidikan ingin relevan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat, maka sekolah juga harus berani mengajukan pertanyaan yang sama kepada siswa: apakah proses belajar membuatmu menjadi manusia yang lebih baik? Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan orang pintar.

Tapi menghasilkan manusia yang mampu menilai dirinya sendiri. Ramadhan mengajarkan refleksi selama satu bulan. Sekolah seharusnya mengajarkannya sepanjang tahun. Jika tidak, maka pendidikan kita mungkin berhasil mencetak banyak lulusan, tapi belum tentu mencetak manusia.

* Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar; alumni S1 PGSD & S2 Pendas UNP.

 


Tags: Integritas AkademikLiterasi MoralMenyontek di SekolahPendidikanPendidikan Indonesiapendidikan karakterRamadhanRefleksi DiriSistem Pendidikan IndonesiaSurvei Penilaian Integritas
ShareTweetPin

Berita Terkait

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

27 Agustus 2026
Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

25 Agustus 2026
Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

17 Juli 2026
Komisi VIII Desak Kementerian Komdigi Blokir Akun dan Konten LGBT

6 Ayat Alquran tentang Keharaman LGBT Berdasarkan Penjelasan Para Ulama Tafsir

12 Juli 2026
Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

7 Juni 2026
Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

27 Mei 2026
Next Post
Kecelakaan di Pasaman Barat, Pengendara Motor Dilaporkan Tewas

Kecelakaan di Pasaman Barat, Pengendara Motor Dilaporkan Tewas

Tinggalkan Komentar

Terpopuler

Enam Polres di Sumatera Barat Punya Wakil Kapolres Baru

22 Kapolsek di 14 Polres di Sumatera Barat Dimutasi

30 September 2026

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

10 April 2026

Hendak Mencuri, Pemuda di Pesisir Selatan Cabuli Penghuni Rumah yang Tidur Telanjang

Hendak Mencuri, Pemuda di Pesisir Selatan Cabuli Penghuni Rumah yang Tidur Telanjang

2 Oktober 2026

Tidur Telanjang, Perempuan Muda di Pesisir Selatan Dicabuli Pemuda yang Ingin Mencuri

Tidur Telanjang, Perempuan Muda di Pesisir Selatan Dicabuli Pemuda yang Ingin Mencuri

4 Oktober 2026

Dituduh Berbuat Mesum, Sepasang Kekasih Lapor Dugaan Penganiayaan di Padang

Dituduh Berbuat Mesum, Sepasang Kekasih Lapor Dugaan Penganiayaan di Padang

2 Oktober 2026

Enam Polres di Sumatera Barat Punya Wakil Kapolres Baru

Lima Kasat Lantas di Sumatera Barat Dimutasi

30 September 2026

Penghuni Perumahan di Padang Merasa Ditipu Pengembang, Kualifikasi Hunian Bukan Kluster

Penghuni Perumahan di Padang Merasa Ditipu Pengembang, Kualifikasi Hunian Bukan Kluster

3 Oktober 2026

Berita Terkini

Karnaval Baju Kuruang Basiba Warnai Festival Literasi Budaya Kota Pariaman 2026

Karnaval Baju Kuruang Basiba Warnai Festival Literasi Budaya Kota Pariaman 2026

5 Oktober 2026

Padang Pariaman Koleksi 8 Medali Porprov XVI Sumbar, Panahan Sumbang Emas Perdana

Padang Pariaman Koleksi 8 Medali Porprov XVI Sumbar, Panahan Sumbang Emas Perdana

5 Oktober 2026

Remaja 14 Tahun di Bukittinggi Hilang Sejak 23 September 2026, Terakhir Pergi ke Warnet

Remaja 14 Tahun di Bukittinggi Hilang Sejak 23 September 2026, Terakhir Pergi ke Warnet

4 Oktober 2026

Harga Cabai di Solok Tembus Rp120 Ribu, Pembeli Kurangi Belanja, Pedagang Keluhkan Pasokan

Harga Cabai di Solok Tembus Rp120 Ribu, Pembeli Kurangi Belanja, Pedagang Keluhkan Pasokan

4 Oktober 2026

Silih Berganti Kapolda Sumbar, WALHI Soroti Penegakan Hukum Tambang Ilegal dan Pembalakan Liar

Silih Berganti Kapolda Sumbar, WALHI Soroti Penegakan Hukum Tambang Ilegal dan Pembalakan Liar

4 Oktober 2026

Tenda Pernikahan Sudah Terpasang, Rumah Calon Pengantin di Lima Puluh Kota Terbakar

Tenda Pernikahan Sudah Terpasang, Rumah Calon Pengantin di Lima Puluh Kota Terbakar

4 Oktober 2026

Informasi

  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Berita

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau

© 2026 Kabarminang.com  All right reserved

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami

© 2026 Kabarminang.com All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami

© 2025 KabarMinang.com.