Kabarminang – Wali Kota Pariaman Yota Balad mengikuti rapat koordinasi (Rakor) pemulihan pascabencana Sumatera secara daring bersama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.
Rakor tersebut digelar melalui aplikasi Zoom dan diikuti oleh seluruh kepala daerah di wilayah Sumatera Barat. Yota Balad mengikuti rapat dari ruang kerjanya pada Jumat (9/1/2026).
Dalam rapat tersebut, Yota Balad memaparkan data kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Pariaman pada Desember 2025, yang dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi dan angin kencang.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam arahannya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap percepatan pemulihan pascabencana, khususnya bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan sedang agar segera menerima bantuan dan dapat kembali beraktivitas.
Tito menegaskan bahwa penyaluran bantuan tidak dapat dilakukan tanpa data yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, seluruh pemerintah daerah diminta segera menetapkan data kerusakan rumah berdasarkan kategori rusak ringan, sedang, dan berat melalui keputusan kepala daerah.
Data tersebut selanjutnya disampaikan kepada gubernur untuk diteruskan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Sosial guna ditindaklanjuti.
Menanggapi arahan tersebut, Yota Balad menyampaikan kondisi terkini dampak bencana hidrometeorologi di Kota Pariaman. Ia menjelaskan bahwa puluhan rumah warga mengalami kerusakan akibat banjir yang dipicu curah hujan tinggi dan angin kencang.
“Untuk total rumah yang mengalami kerusakan ada sebanyak 55 rumah, 10 di antaranya dalam kondisi rusak berat. Untuk sarana pendidikan ada tiga sekolah SMP yang terdampak, di mana ada satu sekolah saat ini menggunakan penyangga agar tidak roboh, dan ada juga tiga PAUD yang terdampak dan sekarang dalam proses rehab,” ujar Yota Balad.
Selain permukiman dan fasilitas pendidikan, Yota Balad juga melaporkan kerusakan infrastruktur jalan di sejumlah titik yang belum dapat diperbaiki.
“Untuk fasilitas jalan Kabupaten/Kota ada kerusakan di beberapa titik yang belum bisa diperbaiki karena putus di tiga titik dalam kondisi rusak berat. Selain itu, kami juga meminta perbaikan jembatan gantung yang merupakan akses vital bagi anak-anak menuju sekolah serta normalisasi aliran Sungai Batang Mangor sepanjang 14 kilometer,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yota Balad menyampaikan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan pada sektor permukiman dan infrastruktur, tetapi juga pada sektor pertanian.
Ia menyebutkan bahwa sekitar 800 hektare lahan pertanian terdampak akibat bencana hidrometeorologi tersebut.
Melalui rapat koordinasi virtual ini, Yota Balad berharap pemerintah pusat dapat segera memberikan bantuan untuk perbaikan fasilitas umum, infrastruktur, lahan pertanian, serta normalisasi sungai agar dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat sebagaimana mestinya.
















