“Masa iya karena cabut gigi,” ucap seorang anggota staf klinik kepada keluarga.
Upaya mediasi pun pernah diinisiasi oleh pihak klinik, tetapi tak menghasilkan titik temu.
“Kami tidak butuh damai kalau tak ada keadilan,” tutur Nurhasni.
Kini Hengki hanya bisa meraba dunia. Ia tak bisa bekerja, tak bisa membantu keluarga, bahkan sekadar berjalan pun harus dipandu. Keluarga berharap ada pihak berwenang yang benar-benar mendengar dan menindaklanjuti kasus itu.
Kasus itu, menurut mereka, telah dihentikan tanpa alasan yang transparan. Klinik pun belum memberikan klarifikasi resmi. Hingga berita ini diturunkan, institusi medis atau aparat penegak hukum belum meninjau ulang peristiwa yang membawa Hengki ke titik paling gelap dalam hidupnya.
Di tengah dunia yang perlahan hilang dari pandangannya, Hengki dan keluarganya masih menyalakan satu harapan kecil: bahwa keadilan, bagaimanapun lambatnya, suatu hari akan datang.
Kabarminang tengah meminta keterangan Polresta Pariaman sehubungan dengan penghentian penyidikan kasus tersebut.