Karena persoalan tidak mengerjakan PR disebut sudah berulang, siswa tersebut kembali diminta mengerjakan PR di luar kelas. Ia juga diminta membuat surat pernyataan yang berisi janji akan mengerjakan PR tepat waktu untuk ditandatangani orang tua.
Namun, menurut R, ibu siswa tidak bersedia menandatangani surat tersebut karena sebelumnya sudah pernah diminta menandatangani surat pernyataan. R juga mengatakan, berdasarkan keterangan guru lain, siswa tersebut mengaku diminta oleh ibunya untuk menandatangani surat tersebut.
Persoalan tersebut belum selesai ketika pembelajaran dimulai pada Senin (31/8/2026).
Menurut R, saat itu dirinya meminta anak SD yang berada di kelas V keluar dari kelas karena masih ada persoalan yang belum diselesaikan.
“Saya berharap mereka mau meminta maaf dahulu, karena persoalannya ada beberapa, termasuk persoalan anaknya, adiknya, dan kejadian sebelumnya,” kata R.
Menurut R, siswa tersebut kemudian menyampaikan kepada ibunya mengenai alasan dirinya diusir dari kelas. Saat itu, kepala sekolah juga berada bersama mereka.
R mengatakan, kepala sekolah kemudian memberikan solusi agar persoalan tersebut diselesaikan secara pribadi dengan meminta maaf kepadanya.
Namun, menurut R, SD menolak permintaan kepala sekolah tersebut.
“Dengan lantang SD bilang, ‘ndak ka minta maaf den ka inyo do’,” kata R.
Setelah itu, menurut R, SD langsung mendatangi kelas yang diajarnya. Saat itu, anak R berada di bawah bimbingannya.
R mengatakan, SD kemudian meminta anaknya keluar dari kelas.R yang mengetahui hal tersebut langsung mendatangi kelas dan menanyakan alasan anaknya diusir.
Menurut R, SD menjawab bahwa anaknya diminta keluar karena sebelumnya R telah meminta anak SD keluar dari kelas.
“Saya jelaskan semuanya, tapi ibu tersebut tetap tidak menerima,” ujar R.
R menegaskan, menurut versinya, sanksi yang diberikan kepada anak SD sebelumnya merupakan bentuk pembinaan atas persoalan yang terjadi di sekolah, termasuk tidak mengerjakan PR, keterlambatan, serta perkataan kasar dan kotor kepada guru.
R juga menegaskan, permintaan agar anak SD keluar kelas pada Senin bukan dilakukan tanpa alasan, melainkan karena persoalan sebelumnya belum diselesaikan.
Ia menilai rangkaian persoalan tersebut kemudian berujung pada anaknya yang juga diusir dari kelas oleh SD.
Peristiwa tersebut kemudian direkam dalam video dan menjadi perhatian di lingkungan sekolah.
R menyampaikan seluruh rangkaian kejadian tersebut berdasarkan apa yang dialaminya dan diketahuinya sebagai wali kelas VI sekaligus orang tua siswa.















