Namun, menurut R, siswa tersebut justru menendang ember yang berada di dekatnya sembari mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar. R mengatakan, kejadian itu disaksikan langsung oleh kepala sekolah.
“Saya bilang tidak boleh seperti itu dan saya jelaskan alasan dia diberikan hukuman mengutip sampah karena terlambat baris,” katanya.
Namun, menurut R, siswa tersebut kembali mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya sebelum berlari menemui ibunya. R mengatakan, ibu siswa kemudian marah kepadanya terkait kejadian tersebut.
Persoalan kembali terjadi pada Jumat (28/8/2026). Kali ini melibatkan anak SD yang duduk di kelas yang diajar R.
Menurut R, anak tersebut tidak mengerjakan PR. Ia kemudian meminta siswa tersebut mengerjakan PR terlebih dahulu di luar kelas dan diperbolehkan masuk kembali setelah tugas selesai. Namun, menurut R, siswa tersebut marah dan langsung berkata kasar kepadanya.
Pada saat yang sama, R menyebut siswa tersebut juga terlibat pertengkaran dengan teman sekelasnya. Dalam kejadian itu, siswa tersebut disebut mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar serta memukul temannya.
“Waktu ditegur, dia malah balik berkata kasar kepada saya,” ujar R.
Karena kejadian tersebut, R meminta siswa membuat surat pernyataan yang ditulis tangan dengan isi, “Saya berjanji tidak akan berkata kasar lagi” dan meminta orang tuanya menandatangani surat tersebut.
Persoalan kembali terjadi pada Sabtu (29/8/2026) pagi. R mengatakan, siswa tersebut kembali tidak mengerjakan PR.















