Dengan penghasilan yang terkadang hanya Rp20.000 sehari, kebutuhan kesehatan menjadi hal yang perlu ia pikirkan. Penghasilan dari mengumpulkan paku bekas harus dibagi untuk berbagai keperluan, sementara kelima anaknya masih bergantung pada dirinya.
Urusan administrasi kependudukan juga belum sepenuhnya selesai. Kartu Keluarga yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan pada 22 Juli 2026 telah mencatat Mardiani sebagai kepala keluarga bersama kelima anaknya. Namun, KTP miliknya masih beralamat di Kota Padang meskipun kini ia tinggal di Pesisir Selatan.
Penyesuaian alamat pada dokumen kependudukan itu masih perlu ditindaklanjuti agar sesuai dengan tempat tinggalnya sekarang.
Berharap anak-anak masuk Sekolah Rakyat
Mardiani berharap kelima anaknya mendapat kesempatan mengikuti program Sekolah Rakyat. Ia ingin mereka tetap memperoleh pendidikan meskipun keluarga mereka hidup dalam keterbatasan.
Anak tertuanya sudah duduk di kelas 2 SMP, sedangkan empat anak lainnya masih membutuhkan dukungan agar bisa melanjutkan pendidikan sesuai usia masing-masing. Dua anak termuda yang berusia 5 tahun dan 3 tahun bahkan belum bersekolah.
Harapan mengikuti Sekolah Rakyat masih perlu ditindaklanjuti untuk mengetahui peluang dan persyaratan penerimaan. Bagi Mardiani, pendidikan anak-anak merupakan salah satu hal yang ingin terus ia perjuangkan di tengah kesulitan mencari nafkah.
Mardiani mengatakan, pemerintah nagari setempat telah mendatangi rumahnya untuk melihat langsung kondisi keluarga dan menanyakan keadaan mereka setelah kembali ke kampung halaman.
Kunjungan itu menjadi salah satu langkah awal untuk mengetahui kebutuhan keluarga Mardiani. Persoalan yang dihadapi masih beragam, mulai dari tempat tinggal, penghasilan sehari-hari, kepesertaan BPJS Kesehatan bagi dua anaknya, hingga administrasi kependudukan dan harapan pendidikan.




















