Kabarminang — Mardiani (39 tahun) tinggal bersama lima anaknya di sebuah rumah yang hanya terdiri atas satu ruangan di Kampung Tanjung Mudik, Nagari Air Haji Tengah, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sejak suaminya meninggal pada 6 Juni 2026, ia berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dengan mengumpulkan paku bekas yang hasilnya terkadang hanya Rp20.000 sehari.
Rumah dengan luas sekitar 3 x 4 meter itu menjadi tempat Mardiani dan kelima anaknya beristirahat sekaligus menjalani aktivitas sehari-hari. Atapnya bocor, sementara ruang yang tersedia sangat terbatas untuk ditinggali enam orang karena rumah itu hanya memiliki satu ruangan. Di ruangan itu ia dan keenam anaknya tidur, memasak, makan, dan beraktivitas sehari-hari.
Mardiani membangun rumah satu ruangan tersebut di belakang rumah orang tuanya setelah ia pulang kampung dari Padang karena suaminya meninggal dunia. Rumah tersebut berdinding papan. Kini atapnya bocor sehingga air merembes ke dalam kamar jika hujan turun.
Untuk mendapatkan uang, Mardiani mengumpulkan paku bekas di sekitar tempat tinggalnya. Ia menitipkan paku-paku itu di warung-warung untuk dijual. Dari pekerjaan tersebut ia biasanya memperoleh Rp20.000 hingga Rp30.000 sehari.
“Jika uang dari hasil mengumpulkan paku tidak mencukupi, saya mencari pekerjaan lain agar tetap bisa membawa pulang uang,” ujar Mardiani pada Jumat (24/10/2026).
Jika ada panggilan kerja, Mardiani pergi ke Kota Padang untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Pekerjaan itu pernah menjadi sumber penghasilannya ketika masih tinggal di ibu kota Sumatera Barat tersebut bersama suaminya.
Namun, bekerja di Padang berarti Mardiani terkadang harus meninggalkan anak-anaknya di kampung selama satu hingga tiga hari. Meski demikian, ia tetap mengambil pekerjaan itu karena kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu, meskipun kelima anaknya masih membutuhkan kehadirannya.
Suaminya, Yenfa Hendri, meninggal dunia dalam usia 41 tahun ketika bekerja sebagai kuli bangunan di Padang. Sebelum kejadian itu, Yenfa mengalami demam selama empat hari. Meski belum pulih, ia tetap bekerja.




















