Kabarminang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang mencatat 1.273 kejadian gempa bumi terjadi di Sumatera Barat sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48 kali dirasakan oleh masyarakat di sejumlah daerah dengan intensitas II hingga IV Modifikasi Mercalli Intensitas (MMI).
Kepala BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa aktivitas kegempaan sepanjang 2025 dipengaruhi oleh aktivitas zona subduksi dan Sesar Sumatera yang masih aktif di wilayah Sumbar. Aktivitas Sesar Sianok dan Sumani yang dominan pemicu terjadinya gempa.
“Bulan Desember 2025 menjadi periode paling sering terjadinya gempabumi yang dirasakan masyarakat. Salah satu kejadian gempa pada bulan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada beberapa rumah warga di Kabupaten Agam, Sumatera Barat,” tutur Suadi kepada Sumbarkita, Selasa (6/1).
Berdasarkan sebaran waktu kejadian, bulan Oktober 2025 tercatat sebagai bulan dengan jumlah gempa terbanyak, yakni mencapai 179 kejadian sepanjang bulan tersebut.
“Jika ditinjau dari magnitudo, aktivitas kegempaan di Sumatera Barat didominasi oleh gempabumi kecil. Sebanyak 801 kejadian gempa bumi dengan magnitudo kurang dari 3,” ujarnya.
Gempa menengah dengan magnitudo antara 3 hingga 5 tercatat sebanyak 460 kejadian, sedangkan gempa kuat dengan magnitudo lebih dari 5 relatif jarang terjadi, hanya 12 kejadian sepanjang tahun 2025.
Kata Suaidi dari sisi kedalaman, BMKG Padang Panjang mencatat 696 kejadian merupakan gempa dangkal, kedalaman kurang dari 60 kilometer. 72 gempa bumi menengah kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer, serta 2 gempa bumi kedalaman lebih dari 300 kilometer.
Menurut Suaidi Ahadi, dominasi gempa dangkal merupakan karakteristik umum wilayah Sumbar yang berada di jalur tektonik aktif.
Suaidi menambahkan, BMKG Padang Panjang mencatat bahwa seluruh data kegempaan tersebut merupakan hasil pemantauan sistem seismik sepanjang tahun 2025 dan menjadi bagian dari dokumentasi resmi aktivitas kebencanaan di Sumbar.














