Sebaliknya, Hasanudin menyatakan bahwa nasib kurang beruntung dialami oleh manajemen hotel klasifikasi nonbintang. Ia menginformasikan bahwa okupansi atau tingkat penghunian kamar hotel nonbintang merosot 3,25 persen poin sehingga menyisakan angka keterisian sebesar 17,83 persen saja pada April lalu.
Hasanudin juga menyoroti sektor transportasi udara domestik di BIM yang mencatatkan penurunan jumlah keberangkatan penumpang sebesar 6,11 persen.
“Kami melihat ada fenomena penurunan yang memerlukan kajian lebih mendalam, apakah kondisi ini murni dipicu oleh faktor tarif tiket yang tinggi atau akibat adanya pengurangan rute penerbangan,” tuturnya.
Di sisi lain, Hasanudin menyatakan bahwa adanya anomali positif pada tren penerbangan internasional yang berangkat dari BIM karena berhasil tumbuh sebesar 13,40 persen. Namun, katanya, situasi kontras terjadi pada volume penumpang yang datang melalui jalur penerbangan domestik karena anjlok hingga 41,80 persen, dan penumpang internasional yang datang juga turun 21,04 persen.
Hasanudin menegaskan bahwa fluktuasi tajam pada arus kedatangan penumpang pesawat udara ini murni terjadi karena siklus musiman pasca-Lebaran. Ia menyebut bahwa penurunan itu sangat wajar karena aktivitas mudik dan liburan masyarakat yang masif sudah memuncak pada bulan sebelumnya.















