Kabarminang – Lebih dari satu tahun setelah menjadi korban peluru nyasar, Bela Cintia (13), pelajar MTs di Padang Pariaman, belum sepenuhnya pulih. Meski kini sudah kembali beraktivitas dan bersekolah, nyeri di bagian perut bekas luka tembak dan operasi masih kerap dirasakannya, sehingga ia harus terus menjalani kontrol medis dan mendapatkan perlakuan khusus di sekolah.
Kondisi kesehatan Bela ini terungkap di tengah berlanjutnya persidangan perkara penembakan yang menimpanya di Pengadilan Negeri Pariaman. Pada Selasa (6/1), persidangan memasuki agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak terdakwa, sehari setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dari pihak korban.
Bela mengungkapkan bahwa rasa nyeri tersebut tidak datang setiap saat, namun bisa muncul sewaktu-waktu dan cukup mengganggu aktivitasnya.
“Kalau sakitnya datang, rasanya sangat tidak nyaman. Kadang saya tidak bisa beraktivitas seperti biasa dan harus istirahat. Makanya sampai sekarang masih sering kontrol,” ujar Bela kepada Sumbarkita usai sidang.
Karena kondisi tersebut, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus untuk mendukung proses pemulihannya. Bela diperbolehkan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar apabila rasa nyeri tiba-tiba kambuh, tanpa dikenai sanksi akademik.
“Sekolah memahami kondisi Bela. Kalau rasa sakitnya muncul, dia boleh tidak masuk. Itu kebijakan khusus agar Bela tidak dipaksakan,” kata kuasa hukum korban, Masrizal.
Masrizal menegaskan, kondisi Bela menunjukkan bahwa dampak penembakan ini bersifat jangka panjang. Luka yang dialami korban tidak hanya berdampak pada saat kejadian, tetapi masih dirasakan hingga lebih dari satu tahun kemudian.
“Ini penting kami sampaikan. Bela belum sembuh total. Dampak fisik dan psikologisnya masih ada sampai sekarang, dan itu harus menjadi pertimbangan majelis hakim dalam memutus perkara ini,” tegasnya.














