RMA juga menyebut terdapat beberapa santri lain yang mengalami perlakuan serupa. Namun, ia menilai tindakan yang dialaminya termasuk yang paling parah.
Respons Sekolah
Pimpinan MTI Tarusan Kamang, Ustaz Ahmad Syaukani, mengatakan siswa tersebut beberapa kali mendapatkan perundungan verbal. Kendati demikian, ia menepis pengakuan korban terkait pihak sekolah yang tidak mampu menghentikan aksi perundungan yang dialami RMA. Ia menegaskan, pihaknya sudah menindaklanjuti kejadian itu hingga memanggil orang tua murid.
Ia mengatakan, RMA merupakan siswa pindahan dari SMP Negeri 1 Tilatang Kamang dengan latar belakang persoalan yang hampir serupa. Santri tersebut mengalami gangguan psikologis dan lebih sensitif terhadap temannya.
“Secara psikologis memang anak ini lebih sensitif, mudah tersinggung, dan jika tersinggung bisa marah. Sampai sekarang ia masih rutin menjalani terapi ke psikiater. RMA memiliki akademik yang bagus dan pernah meraih juara umum,” ujarnya kepada Sumbarkita, Kamis (5/3/2026).
Ia menyebut, dalam beberapa insiden, RMA kerap menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan hingga teman-temannya merasa takut.
“Terkadang jika tersinggung ia bisa marah hingga melempar kursi atau meja, yang membuat beberapa teman merasa takut. Namun, kami tidak pernah mengeluarkan siswa begitu saja; kami panggil orang tua dan komunikasikan untuk perbaikan,” ujarnya.
Ia mengimbau agar persoalan sensitif ini disikapi secara proporsional demi menjaga kondusivitas lingkungan pesantren, sembari tetap memprioritaskan perbaikan kondisi mental dan keamanan santri di masa depan.
















