“Sangat miris. Di saat kita merayakan hak-hak perempuan, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak perempuan dan anak kita yang hancur masa depannya oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka, seperti paman, ayah tiri, hingga tetangga sendiri,” kata Fatmiyeti.
Fatmiyeti mengatakan bahwa faktor pemicu utama kasus kekerasan seksual bukanlah ekonomi, melainkan kurangnya pengawasan orang tua dan pengaruh negatif konten di media sosial yang dikonsumsi oleh para pelaku dewasa ini.
Tingginya angka narapidana kasus asusila di Lapas Pariaman menjadi tamparan keras pada hari bersejarah bagi perempuan sedunia ini. Fatmiyeti mengimbau semua elemen masyarakat, dari ninik mamak hingga pemerintah daerah, untuk tidak lagi menganggap remeh kasus pelecehan seksual.
“Hari Perempuan bukan hanya soal seremonial, tapi soal bagaimana memastikan tidak ada lagi korban-korban baru yang lahir karena kelalaian kita dalam mengawasi lingkungan,” tutur Fatmiyeti.















