Masalah lain yang disampaikan AX ialah ketidakpastian ketersediaan obat-obatan rutin untuk penderita tuberkulosis di apotek RSUP Dr. M. Djamil Padang. Ia mencatat beberapa jenis obat vital seperti Piridoksin, Ethambutol, dan Isoniazid beberapa kali mengalami kekosongan stok dalam periode Juni hingga Agustus 2026. Ia mengungkapkan bahwa pada pertengahan Agustus 2026, apotek rumah sakit memberikan obat Isoniazid dengan dosis 400 mg. Padahal, katanya, dosis yang tertulis pada resep dokter adalah 300 mg, tanpa disertai penjelasan medis mengenai perubahan tersebut.
“Petugas apotek saat itu hanya menyatakan bahwa pemberian obat telah sesuai dengan prosedur dan ketersediaan stok di depo rumah sakit,” tutur AX.
AX juga mengeluhkan penurunan kualitas medis pada alat selang nefrostomi pengganti yang dipasang pada tubuhnya pada akhir Juli 2026.
AX merasakan selang pengganti tersebut mudah terlepas pada sambungan luar, gampang patah, serta terlipat sehingga menghambat saluran pembuangan urine saat ia beristirahat. Saat meminta penjelasan tentang hal tersebut, AX menyebut dokter yang bertugas hanya menyatakan bahwa jenis selang tersebut merupakan satu-satunya stok yang tersedia di rumah sakit.
”Kualitas selang pengganti yang dipasang sangat mengganggu aktivitas dan kesehatan saya karena sering terlipat dan lepas, tetapi respons medis hanya menyebutkan bahwa hanya itu barang yang tersedia,” ujar AX.
Guna menyelesaikan persoalan tersebut, AX mengaku telah mengirimkan surat pengaduan resmi kepada manajemen RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk meminta salinan rekam medis serta penjelasan tertulis secara transparan.
AX memaparkan bahwa manajemen RSUP Dr. M. Djamil Padang memberikan klarifikasi resmi melalui Wakil Kepala Instalasi Humas dan Promkes, Rizki Rasyidi, yang menyatakan ketiadaan dokter spesialis disebabkan padatnya jadwal operasi di kamar bedah. Berdasarkan jawaban rumah sakit yang diterima AX, Rizki mengklaim bahwa pelayanan oleh dokter PPDS telah sesuai dengan aturan rumah sakit pendidikan di bawah supervisi dokter spesialis.
Terkait tindakan VCUG, AX menyebut rumah sakit beralasan bahwa pembiusan lokal merupakan standar medis agar pasien tetap berada dalam kondisi sadar untuk menilai refleks pengeluaran urine.


















