Menurut Farhan, kasus keracunan MBG tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi statistik. Setiap kejadian berkaitan langsung dengan keselamatan penerima manfaat, terutama anak-anak sekolah.
“Keracunan MBG bukan soal angka statistik, tetapi soal keselamatan manusia. Ini menyoal kepercayaan orang tua dan rasa was-was yang membayangi mereka di rumah. Pemerintah perlu merenungkan dalam-dalam betapa problematiknya program MBG ini dari hulu ke hilir,” kata Farhan.
Ia menilai penanganan kasus yang hanya dilakukan setelah kejadian berpotensi membuat persoalan terus berulang. Pemerintah, kata dia, perlu memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan dari hulu hingga hilir.
“Sebagus apa pun program yang dijanjikan, jika telah mengancam nyawa manusia, tentu keraguan publik tidak dapat dipungkiri. Melihat tingginya angka ketidakpuasan serta berulangnya insiden di lapangan, kami menilai pemerintah belum berhasil melakukan pembenahan yang mendasar dan sistemik,” jelasnya.
Farhan juga mengingatkan adanya potensi dampak jangka panjang apabila krisis kepercayaan terhadap MBG tidak segera ditangani. Sebagai salah satu program prioritas Presiden, persoalan yang terus berulang dinilai dapat memengaruhi citra pemerintah.
“Harapannya pemerintah bukan hanya sekadar memberi respons reaktif terhadap kasus keracunan MBG ini. Jika tidak, program MBG yang merupakan bagian dari program prioritas Presiden lambat laun berpotensi menurunkan elektabilitas Presiden saat ini,” pungkas Farhan.
















