Kabarminang – Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh menyatakan dukungan penuh terhadap Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN) yang diluncurkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Program tersebut bertujuan meningkatkan keamanan konsumsi jamu, melindungi kesehatan masyarakat, serta memperkuat daya saing pelaku usaha jamu lokal.
Dukungan itu disampaikan Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman saat mengikuti Kick Off Program IDAMAN secara daring dari Aula Pertemuan Riza Falepi, Kantor Wali Kota Payakumbuh, Selasa (9/6/2026).
Program IDAMAN merupakan kampanye nasional yang diluncurkan BPOM bertepatan dengan pembukaan Pekan Jamu 2026 dengan tema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu”.
Elzadaswarman mengatakan program tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena mendorong peningkatan pengawasan dan edukasi terkait produk jamu yang aman, bermutu, serta bebas dari kandungan Bahan Kimia Obat (BKO) yang berpotensi membahayakan kesehatan.
“Karena ini merupakan program nasional, Pemerintah Kota Payakumbuh tentu mendukung penuh. Kami akan terus mengomunikasikan kepada masyarakat agar semakin memahami pentingnya mengonsumsi jamu yang aman,” ujarnya.
Menurutnya, masih terdapat kekhawatiran masyarakat terhadap sejumlah produk jamu yang belum memenuhi standar keamanan. Karena itu, edukasi berkelanjutan diperlukan agar masyarakat lebih cermat dalam memilih produk yang telah memenuhi ketentuan.
Melalui Program IDAMAN, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya memilih jamu yang memiliki izin edar dan diproduksi sesuai standar keamanan sehingga manfaat kesehatan yang diperoleh dapat lebih terjamin.
“Program ini menjadi langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap jamu sebagai warisan budaya bangsa sekaligus alternatif menjaga kesehatan yang aman dan berkualitas,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa Program IDAMAN dirancang untuk meningkatkan kesadaran konsumen sekaligus mendorong pelaku usaha menghasilkan produk jamu yang aman dan bermutu.
Ia menyebut program tersebut berfokus pada dua aspek utama, yakni edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi jamu serta pendampingan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu memproduksi jamu sesuai standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan memperoleh izin edar resmi dari BPOM.
Selain meningkatkan perlindungan konsumen, program ini juga membuka peluang bagi UMKM jamu untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, dan memperkuat daya saing usaha melalui pembinaan serta pendampingan berkelanjutan.
Elzadaswarman juga menyambut baik langkah BPOM dalam memperkuat infrastruktur Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah guna meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan.
Menurutnya, penguatan UPT BPOM akan membuat proses pengawasan lebih cepat, responsif, dan mampu menjangkau wilayah yang lebih luas sehingga potensi peredaran produk yang tidak memenuhi standar dapat diminimalkan.
“Tentu dengan infrastruktur UPT yang semakin kuat dan memadai di daerah, fungsi pengawasan terhadap obat dan makanan, khususnya jamu, akan menjadi lebih optimal dan mampu menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput,” ujarnya.
Ia berharap Program IDAMAN dapat diimplementasikan secara optimal di Kota Payakumbuh untuk melindungi masyarakat dari risiko konsumsi jamu yang mengandung BKO sekaligus mendorong UMKM jamu lokal naik kelas, lebih berdaya saing, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kegiatan tersebut turut diikuti Kepala Balai POM di Payakumbuh beserta jajaran, Kepala Bagian Perekonomian Setdako Payakumbuh, Kepala UPTD Sentra Randang, serta perwakilan organisasi perangkat daerah terkait di lingkungan Pemko Payakumbuh.
















