Kabarminang — Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan di Kota Padang akibat kabut asap tidak selalu berjalan mudah di tingkat keluarga. Di balik aktivitas belajar dari rumah, orang tua menghadapi persoalan berbeda, dari anak yang bermain di luar rumah hingga keterbatasan telepon seluler dan biaya kuota internet.
Rika (35 tahun), warga Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, mengatakan bahwa ia masih melihat anak-anak bermain di luar rumah saat PJJ diberlakukan. Ia melihat sejumlah anak tetap bermain bola hingga bermain air di sekitar bantaran Sungai Banda Kali.
Kondisi tersebut membuat Rika khawatir karena kualitas udara Kota Padang saat ini tidak sehat bagi orang dewasa, apalagi bagi anak-anak.
“Kita yang orang dewasa saja sudah terpengaruh, tapi mereka malah entengnya,” ujar Rika pada Jumat (18/9/2026).
Rika juga menyayangkan sikap sebagian orang tua yang masih membiarkan anak-anak beraktivitas di luar rumah dalam kondisi kabut asap seperti sekarang.
Bagi Rika, penerapan PJJ semestinya menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk berada di dalam rumah. Dengan begitu, katanya, aktivitas mereka di luar ruangan dapat dikurangi selama udara masih tidak sehat
Rika melihat bahwa persoalan PJJ tidak berhenti pada aktivitas anak di luar rumah. Bagi sebagian keluarga, katanya, PJJ menghadirkan tantangan lain karena tidak semua orang tua memiliki perangkat dan kemampuan ekonomi yang cukup untuk mendukung kegiatan belajar secara daring.
Hal itu dirasakan Sinta (42 tahun), warga Jati, Kecamatan Padang Timur, Ia memiliki tiga anak yang saat ini duduk di kelas 3 SD, kelas 6 SD, dan kelas 2 SMP. Ketiganya mengikuti PJJ dengan menggunakan satu telepon seluler milik Sinta. Akibatnya, anak-anak harus bergantian menggunakan perangkat tersebut.


















