Untuk upah, para pekerja mendapatkan Rp125 ribu per hari, sedangkan tukang menerima Rp170 ribu per hari.
“Ini juga membantu perputaran ekonomi masyarakat penyintas,” kata Dasrul.
Sebanyak 10 kepala keluarga (KK) akan menempati huntap tersebut. Selain itu, pihaknya juga mendampingi 11 KK dari kaum suku Tanjung yang terdampak banjir di kawasan tersebut.
“Jadi yang tinggal di sini warga RT 03 RW 04 semuanya,” katanya.
Dasrul menyebut pembangunan huntap tidak terlepas dari dukungan kaum suku Tanjung yang memberikan hak guna pakai lahan bagi para penyintas.
“Korban penyintas galodo diberi hak guna pakai lahan seluas 12×12 meter persegi dari kaumnya,” ujarnya.
Penataan kawasan hunian juga dilakukan dengan konsep terpadu, di mana hunian sementara dibangun di bagian belakang, sementara huntap berada di bagian depan.
Sebelumnya, banjir bandang yang melanda kawasan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan, terutama pada sektor pertanian dan peternakan. Lahan terdampak mencapai sekitar 1,2 hektare, meliputi sawah serta kebun cabai dan jagung.
Selain itu, sekitar 400 ekor ayam dilaporkan hanyut, serta empat ekor kambing dan dua ekor sapi. Lahan perkebunan durian milik warga seluas 4 hingga 6 hektare di hulu Sungai Batu Busuk juga terdampak.
Mayoritas warga terdampak berprofesi sebagai petani, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai buruh harian lepas.
Terkait anggaran, Dasrul menyebut estimasi biaya pembangunan satu unit huntap mencapai sekitar Rp80 juta, dengan pendanaan berasal dari Kadin sebagai pihak pendukung program.
















