Keluhan serupa juga disampaikan Yogi Pratama, pemilik barber shop di kawasan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Ia mengaku jumlah pelanggan menurun sejak pemadaman listrik terjadi bergilir.
“Biasanya malam ramai, terutama anak muda dan pekerja yang baru pulang. Tapi sejak mati lampu, suasana jadi sepi karena masyarakat malas keluar rumah,” katanya.
Menurut Yogi, barber shop kecil seperti miliknya belum memiliki genset sehingga operasional praktis berhenti total saat listrik padam.
“Kalau mati lampu, kami terpaksa berhenti bekerja. Alat banyak yang elektrik dan pelanggan juga tidak nyaman kalau kondisi gelap atau panas,” ujarnya.
Sementara itu, Ardi, pemilik barber shop di kawasan Sungai Geringging, Padang Pariaman, mengatakan para pelaku usaha mulai khawatir apabila pemadaman listrik berlangsung lebih lama.
Ia menyebut usaha kecil sangat bergantung pada pemasukan harian sehingga gangguan listrik langsung memengaruhi kondisi ekonomi pelaku usaha.
“Kalau hanya sehari mungkin masih bisa bertahan. Tapi kalau terus berlanjut tentu berat bagi usaha kecil seperti kami,” katanya.
Para pemilik barber shop berharap pasokan listrik di wilayah Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman segera kembali stabil agar aktivitas usaha masyarakat dapat kembali normal.
















