Kabarminang – Nilai ekspor sejumlah komoditas unggulan non-sawit Sumatera Barat mengalami penurunan tajam pada Agustus 2026. Penurunan terjadi pada komoditas kayu manis, gliserol, produk nabati, hingga sejumlah produk olahan karet.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Barat, Novrial, mengatakan sejumlah komoditas andalan daerah mengalami kontraksi nilai transaksi dibandingkan bulan sebelumnya.
“Komoditas Kayu Manis mengalami penurunan ekspor yang sangat drastis, dari US$ 3,43 juta pada Juli 2026 menjadi US$ 1,22 juta pada Agustus 2026,” ujar Novrial, Kamis (17/9/2026).
Selain kayu manis, penurunan juga terjadi pada komoditas industri olahan turunan nabati dan karet. Nilai ekspor gliserol turun dari US$ 4,86 juta pada Juli menjadi US$ 2,22 juta pada Agustus 2026.
Sementara itu, Produk Nabati Lainnya mengalami penurunan dari US$ 3,99 juta menjadi US$ 1,95 juta.
“Sektor olahan karet juga mengalami tekanan cukup berat, di mana Karet Campuran anjlok menjadi US$ 464,01 ribu dari sebelumnya US$ 2,16 juta, dan Karet Alam turun menjadi US$ 2,25 juta dari US$ 2,43 juta,” tutur Novrial.
Penurunan juga terjadi pada komoditas Ekstrak Penyamak Nabati. Nilai ekspornya turun menjadi US$ 782,28 ribu pada Agustus dari US$ 1,38 juta pada Juli 2026.
Komoditas perkebunan dan hortikultura turut mengalami koreksi. Nilai ekspor Buah Bertempurung turun menjadi US$ 1,68 juta, sedangkan Buah Manggis menjadi US$ 410,91 ribu. Serat Kelapa juga turun tipis menjadi US$ 10,18 ribu.





















