Di tengah penurunan berbagai komoditas non-sawit tersebut, ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya justru mengalami peningkatan signifikan.
Minyak Kelapa Sawit (HS 1511) mencatatkan kenaikan nilai ekspor dari US$ 165,04 juta pada Juli menjadi US$ 240,32 juta pada Agustus 2026. Asam Lemak Monokarboksilat juga melonjak dari US$ 3,21 juta menjadi US$ 13,44 juta.
“Kenaikan tajam pada sektor sawit ini menopang total nilai ekspor Sumbar bulan Agustus 2026 hingga mencapai US$ 269,76 juta, naik 41,40 persen dari Juli yang sebesar US$ 190,78 juta,” kata Novrial.
Sejumlah komoditas lainnya juga mencatatkan peningkatan. Bungkil menyumbang nilai ekspor US$ 2,08 juta, Buah dan Kacang US$ 749,66 ribu, serta Minyak Atsiri US$ 1,43 juta.
Ikan Beku dan Kopi yang pada Juli tidak mencatat transaksi ekspor, pada Agustus masing-masing membukukan nilai US$ 324,55 ribu dan US$ 309,76 ribu.
Kenaikan dalam nilai yang lebih kecil juga terjadi pada Sapu dan Sikat menjadi US$ 45,75 ribu serta Senyawa Heterosiklik sebesar US$ 36,21 ribu.
Dengan perkembangan tersebut, total nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$ 1,486 miliar.





















